Sabtu, 31 Januari 2015

Difteri

Apa itu Difteri?
Penyakit difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (tonsil, faring dan hidung) dan kadang pada selaput lendir dan kulit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Corynebacterium diphteriae. Semua golongan umur baik anak-anak maupun orang dewasa dapat tertular oleh penyakit ini. Namun anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun sangat beresiko tertular penyakit Difteri.

Apa Saja Gejala/Tanda-tanda Penyakit Difteri?

Pada umumnya penyakit difteri menyebabkan gejala-gejala seperti panas, sesak nafas, nyeri telan pada tenggorokan, leher bengkak (bullneck), serta adanya selaput warna putih keabu-abuan di tenggorokan yang dapat menyumbat jalan nafas. Selain itu penyakit difteri dapat menghasilkan racun yang berbahaya karena dapat menyerang otot jantung, jaringan saraf dan ginjal.

Difteri dapat menyerang bagian tubuh seperti tenggorokan, bibir, kulit, mata, hidung, tonsil faring, dan laring. Penyakit Difteri yang parah dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi bisa dipengaruhi oleh virulensi kuman, luas membra, jumlah toksin, waktu antara timbulnya penyakit dengan pemberian antitoksin. Komplikasi yang terjadi antara lain kerusakan jantung, kerusakan system saraf dan obstruksi jalan nafas.





Apakah Penyebab Penyakit Difteri?
Gambar bakteri Corynebacterium diphteriae

Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini adalah kuman batang gram positif, dimana kuman ini tidak membentuk spora, tahan dalam keadaan beku dan kering dan mati pada pemanasan 60ÂșC.

Akan tetapi terdapat beberapa faktor lain yang dapat mempermudah terinfeksi penyakit Difteri, yaitu:
  • Cakupan imunisasi kurang atau tidak mendapat imunisasi secara lengkap 
  • Kualitas vaksin yang tidak bagus 
  • Faktor lingkungan tidak sehat seperti sanitasi yang buruk dan rumah yang berdekatan yang mempermudah penyebaran difteri 
  • Tingkat pengetahuan ibu rendah tentang imunisasi dan gejala difteri 
  • Akses pelayanan kesehatan yang kurang 

Bagaimana Cara Penularan Difteri?

Penyakit Difteri terkenal sebagai penyakit menular yang berbahaya. Lalu bagaimana cara penularannya? Penyakit Difteri dapat menular melalui percikan ludah/batuk/bersin dari orang yang membawa bakteri (sedang menderita difteri atau seorang karier difteri) ke orang lain yang sehat. Karier difteri adalah seseorang yang sehat, tidak mengalami gejala penyakit difteri, tetapi hasil tes swab hidung menunjukkan positif adanya kuman difteri. Orang dengan karier difteri dapat disembuhkan dengan cara minum obat eritsomisin 4x1 selama 10 hari,

Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Difteri?

Penyakit Difteri berbahaya, tetapi dapat dicegah dengan cara imunisasi dasar lengkap. Berikut adalah 3 imunisasi yang dilakukan di Indonesia:
  • Imunisasi dasar lengkap pada saat (DPT-HB-HiB 3 kali) dan booster 1 kali saat anak usia 18 – 36 bulan. 
  • Imunisasi DT pada anak SD/MI kelas 1 
  • Imunisasi TD pada anak SD/MI kelas 2 dan 3 
Di samping mendapat imunisasi lengkap untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, ada baiknya penyakit difteri kita cegah dengan melakukan:
  • Hindari untuk kontak secara langsung dengan penderita difteri. 
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan seperti cuci tangan, sanitasi yang baik, membersihkan bagian rumah dan halaman, dan lain-lain. 
  • Menjaga kondisi tubuh tetap prima agar tidak mudah terserang penyakit seperti makan makanan bergizi dan berolaharaga yang rutin 
  • Bila perlu pakailah masker kesehatan. 
  • Tidak batuk dan bersin di sembarang tempat. Etika bersin dan batuk yang benar adalah dengan menutupi menggunakan tissue, atau jika tidak ada tissue maka bisa menggunakan lengan 
Bagaimana Cara Mengobati Difteri?

Penyakit Difteri merupakan penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu penanganan harus dilakukan dengan segera. Bila gejala-gejala difteri mulai timbul, maka segeralah pergi ke rumah sakit.

Berkonsultasilah dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang benar dan pemberian eritromisin terhadap kontak langsung.

Pemberian eritromisin dan penisilin dapat membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Saat penderita mengalami sumbatan jalan nafas, jika diperlukan tenaga medis akan membuat lubang pada pipa saluran pernafasan atas agar pasien dapat bernafas.

Difteri di Kota Padang?

Bila ditemukan satu penderita yang diagnosis oleh dokter sebagai klinis difteri atau konfirmasi dipteri maka dianggap sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), dan dilaporkan segera kurang dari 24 jam ke Dinas Kesehatan secara berjenjang untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Pada tahun 2015 ini, kejadian dipteri di Kota padang (sd 31 Januari 2015), sudah ditemukan sebanyak 6 (enam) kasus. Berdasarkan domisili pasien ke lima kasus berasal dari:
  • Kasus 1, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kec. Padang Timur
  • Kasus 2, Kelurahan Kuranji, Kec. Kuranji
  • Kasus 3, Kelurahan Olo, Kec. Padang Barat
  • Kasus 4, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara
  • Kasus 5, Kelurahan Lubuk Minturun, Kec. Koto Tangah
  • Kasus 6, Kelurahan Lolong Belanti, Kec. Padang Utara
Berdasarkan jenis kelamin dari 6 kasus tersebut 50% nya berjenis kelamin laki-laki dan 66,67% berada pada kelompok umur > 5 tahun. Dari keenam kasus rata-rata tidak mendapat imunisasi lengkap.

Upaya tindak lanjut
  1. Penyelidikan Epidemiologi dan melaporkan W1 (format pelaporan KLB) dalam waktu < 24 jam 
  2. Penataksanaan kasus dan kontak. Kontak adalah orang yang berkontak erat dengan penderita seperti keluarga, teman sekolah, teman mengaji/les 
    • KASUS
      1. Kasus Difteri dirujuk ke RSUP DR. M. Djamil Padang 
      2. Tatalaksana pengobatan yaitu diberikan ADS, & anti biotik 
      3. Pengambilan spesimen swab tenggorokan & Hidung 
    • KONTAK
      1. Pengambilan swab hidung bagi kontak 
      2. Pemberian profilaksis (Erythromycin 50 mg/KgBB/hari) selama 7 – 10 hari 
    • LINGKUNGAN
      1. Surveilans ketat (pemantauan kasus demam) 
      2. Survei Cakupan imunisasi DPT (2-3 tahun sebelumnya), jika imunisasi DPT dan DT < 80% dilakukan ORI 
  3. Bila hasil pemeriksaan spesimen kontak positif dilakukan pemeriksaan ulangan pada 2 minggu setelah pengambilan spesimen pertama. 
  4. Rapat Koordinasi dengan Lintas Program dan Lintas Sektoral 
  5. Sosialisasi penanggulangan KLB Diphteri kepada petugas surveilans kab./kota dan PKM. 
  6. Sosialisasi penanggulangan KLB Diphteri kepada lintas program dan lintas sektor serta masyarakat 
  7. Pelaksanaan ORI (Out break Respons Immunization) se Kota Padang. Pada ORI ini akan diberikan imunisasi salah satu vaksin DPT-Hb-HiB/DT/Td untuk anak usia 0-15 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Jenis vaksin disesuaikan dengan usia anak. 
(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

Keberhasilan Vaksinasi Dalam Komik

Beberapa tahun terakhir muncul gerakan anti-vaksinasi diberbagai belahan dunia.
Dengan ilmu yang salah, kesaksian yang dibuat-buat, bahkan penilitian yang dipalsukan gerakan ini memberi pemahaman yang keliru tentang vaksinasi. 

Berbahaya karena
1.  Ternyata berhasil menghasut pikiran banyak orang tua sehingga tidak sedikit yang kemudian enggan mengikut sertakan anaknya dalam program vaksinasi yang direkomendasikan. 
2. Akibat dari hal tersebut adalah kembali munculnya PD3I (Penyakit-Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)

Komik ini karya Maki Naro ini menjelaskan tentang keberhasilan Vaksinasi
Saya Share dari Face Book Savrina Tanjung Prabandari yang menterjemahkannya
Saya Mohon Izin Share karena menurut hemat saya ini sangat bermanfaat dan mudah dipahami










(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

Pencanangan ORI (Outbreak Respons Immunization) Difteri di Kota Padang

Padang, Jumat 30 Januari 2015

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat obstruksi larings atau miokarditis akibat aktivasi eksotoksin. Pada kejadian luar biasa (KLB), selain difteri farings, tonsil, dan larings, telah pula dilaporkan terjadinya difteri hidung dan difteri kulit.

Difteri sangat menular melalui droplet dan penularan dapat terjadi tidak hanya dari penderita saja, namun juga dari karier (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya.

Kejadian luar biasa yang terjadi di Kota Padang pada saat ini merupakan indikator bahwa program imunisasi tidak mencapai sasaran. Oleh karena itu, dalam menghadapi dan mengatasi masalah difteri, kita harus memperbaiki pelaksanaan program imunisasi secara menyeluruh.

Sampai hari ini, tanggal 30 Januari 2015, Pada tahun 2015 ini, kejadian dipteri di Kota padang sudah ditemukan sebanyak 5 kasus. Berdasarkan domisili pasien ke lima kasus berasal dari :
- Kasus 1, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kec. Padang Timur
- Kasus 2, Kelurahan Kuranji, Kec. Kuranji
- Kasus 3, Kelurahan Olo, Kec. Padang Barat
- Kasus 4, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara
- Kasus 5, Kelurahan Lubuk Minturun, Kec. Koto Tangah

Berdasarkan jenis kelamin dari 5 kasus tersebut 60% nya berjenis kelamin laki-laki dan 60% berada pada kelompok umur > 5 tahun. Dari kelima kasus rata-rata tidak mendapat imunisasi lengkap. Bila ditemukan satu penderita yang diagnosis oleh dokter sebagai klinis difteri atau konfirmasi dipteri maka dianggap sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)

Menindaklanjuti pernyataan KLB Difteri oleh Walikota Padang, maka pada tanggal 30 Januari 2015 ini, Pelaksanaan ORI ini dimulai dan dicanangkan oleh Walikota Padang Mahyeldi, didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Dr. Hj. Rosnini Savitri, MKes di Palanta Rumah Dinas Walikota Padang bersamaan dengan pencanangan Bulan Penimbangan Massal dan Bulan Vitamin A.

Outbreak response immunization (ORI), yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT/Td kepada semua anak berumur 2 bulan - <15 tahun yang tinggal di kota Padang.
  • Umur 2 bulan - 3 tahun diberikan Vaksin Pentavalen (DPTHbHiB)
  • Umur 3 – 7 tahun diberilan DT
  • Umur >7 tahun diberikan Td
Imunisasi ini akan diberikan oleh tenaga Kesehatan di Posyandu, PAUD, TK, SD/MI dan SMP sederajat. 


Di kesempatan terpisah, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno memerintahkan kepada Kepala Dinas Kesehatan untuk segera menyikapi KLB Difteri ini dan melakukan koordinasi dengan Kota Padang terhadap langkah-langkah antisipasi yang harus dilakukan dan meningkatkan pengawasan dan surveilans ketat agar kasus ini tidak menyebar ke kabupaten/kota lainnya.

Sejak awal Gubernur Irwan Prayitno selalu memberikan dukungan penuh terhadap pencapaian program imunisasi, pada awal munculnya isu-isu negative tentang imunisasi, bapak Gubernur memimpin langsung diskusi imunisasi kepada kelompok ulama yang mendukung maupun menentang imunisasi dalam acara Seminar Sehari Imunisasi Untuk Buah Hati Kita di Padang, 6 Oktober 2011.

Seluruh jajaran Kesehatan dan lintas sektor terkait harus bekerja sama menanggulangi Diphteri ini, jangan sampai anak-anak kita harus kehilangan nyawa karena diphteri. Camat dan Lurah harus mendukung dan terjun langsung dalam ORI ini, ulama di masjid juga. Kepada Pimpinan Puskesmas, jika ada masalah terkait ORI ini sampaikan secara detail, segera, agar segera pula dapat kita carikan solusinya, demikian Mahyeldi menyampaikan pada sambutannya.


Sebelum dilakukan pencanangan terlebih dahulu dilakukan sosialisasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat terhadap Penyakit Difteri dan Pelaksanaan ORI di Kota Padang yang akan dilaksanakan dalam 3 Putaran, yaitu putaran pertama pada Bulan Februari, Putaran Kedua pada bulan Maret dan putaran ketiga pada bulan September 2015. 

Pada kesempatan yang sama, selain mencanangkan kegiatan ORI Kota Padang, Walikota Padang Mahyeldi juga melakukan penimbangan dan pada sore harinya dilakukan Talkshow di TVRI Padang bersama dr. Finny Fitri Yani, SpA untuk meyakinkan masyarakat bahwa imunisasi ini penting untuk buah hati kita.

Merebaknya kasus difteri di Kota Padang menimbulkan beberapa pertanyaan, mengapa hal tersebut dapat terjadi. Menyimak statement dari IDAI terhadap KLB Diphteri, maka ada beberapa hal yang dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Cakupan imunisasi gagal mencapai target
Data cakupan imunisasi sangat bervariasi bergantung dari mana dan oleh siapa survei tersebut dilakukan. Pencatatan yang dilaksanakan kurang akurat sehingga menghasilkan data yang kurang akurat pula. Catatan pada Buku KIA, KMS atau Buku Catatan Kesehatan Anak tidak diisi dengan baik oleh petugas kesehatan yang melakukan imunisasi dan tidak disimpan dengan baik oleh orang tua, sehingga sulit diketahui apakah imunisasi anaknya sudah lengkap atau belum.

2. Adanya negative campaign sebagai gerakan anti imunisasi yang marak akhir-akhir ini telah menyebabkan banyak orang tua menolak anaknya diimunisasi. Program imunisasi sebagai program nasional seharusnya diikuti dan dilaksanakan oleh semua masyarakat. Maka kelompok anti vaksinasi perlu diatasi dengan cara pendekatan tersendiri dan terencana.


3. Imunisasi gagal membentuk antibodi secara maksimal pada anak
a. Apakah imunisasi tidak lengkap? Apakah imunisasi ulangan tidak diberikan? Vaksin DPT merupakan vaksin mati sehingga untuk mempertahankan kadar antibodi menetap tinggi di atas ambang pencegahan, sangat diperlukan kelengkapan ataupun pemberian imunisasi ulangan. Imunisasi DPT lima kali harus dipatuhi sebelum anak berumur 6 tahun.

b. Apakah petugas kesehatan tidak memberikan imunisasi pada anak yang menderita sakit ringan sehingga mengakibatkan pemberian imunisasi tidak sesuai jadwal atau bahkan tidak diberikan? Kontra indikasi absolut imunisasi adalah defisiensi imun dan pernah menderita syok anafilaksis pada imunisasi terdahulu. Sedangkan demam tinggi atau sedang dirawat karena penyakit berat merupakan kontra indikasi sementara, sehingga anak tetap harus diimunisasi apabila telah sembuh. Jangan sampai terjadi missed opportunity untuk memberikan imunisasi hanya karena alasan “anak sering sakit”.


c. Apakah cold chain di semua fasilitas kesehatan telah diperhatikan dengan baik? Vaksin Bio Farma yang dipergunakan untuk program imunisasi nasional telah dilengkapi dengan vaccine vial monitor (VVM) yang ditempelkan pada botol vaksin untuk monitor suhu vaksin. Petugas medis diharapkan memperhatikan VVM, tanggal kadaluwarsa dan keadaan vaksin (endapan, gumpalan) sebelum disuntikkan. Penyimpanan dan transportasi vaksin harus memperhatikan prosedur baku cold chain, karena vaksin DPT akan rusak bila membeku atau dibawah 2 derajat celcius, atau terpapar suhu di atas 8 derajat celcius. Hal tersebut perlu mendapat perhatian para petugas kesehatan baik di rumah sakit, rumah bersalin, ataupun klinik pribadi.


PENANGGULANGAN DARI ASPEK PENCEGAHAN
Upaya pencegahan harus dilakukan bersama-sama dengan tindakan deteksi dini kasus, pengobatan kasus, rujukan ke rumah sakit, mencegah penularan, dan memberantas karier. 


A. Jangka pendek
  1. Di daerah KLB dilakukan outbreak response immunization (ORI), yaitu pemberian imunisasi DPT/ DT/Td kepada semua anak berumur <15 tahun yang tinggal di daerah KLB (umur 2 bulan - 3 tahun diberikan Vaksin Pentavalen (DPTHbHiB), umur 3 – 7 tahun diberilan DT dan umur >7 tahun diberikan Td).
  2. Di daerah non-KLB diperlukan kesiapsiagaan dengan memperhatikan kelengkapan status imunisasi setiap anak yang berobat. Segera lengkapi apabila status imunisasi belum lengkap (3x sebelum umur 1 tahun, 1x pada tahun kedua, 1x pada umur 5 tahun atau sebelum masuk sekolah dasar). Selain itu perlu juga dilengkapi imunisasi yang lainnya.

B. Jangka panjang, untuk daerah KLB perlu dilakukan gerakan imunisasi terpadu untuk meningkatkan cakupan imunisasi DPT (Program Imunisasi Indonesia, vaksinnya adalah Vaksin Pentavalen) sehingga mencapai 95% dari target anak <15 tahun.

C. Pelaksanaan tindakan preventif dan kuratif terhadap difteri dengan memberikan edukasi kepada masyarakat melalui media lokal seperti radio, TV, surat kabar, atau majalah, serta menyebarkan leaflet berisi penjelasan tentang penyakit, penanggulangan serta pencegahannya.


D. Menanggulangi difteri secara khusus dan meningkatkan cakupan imunisasi di daerah terkait. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan kerjasama IDAI, IDI, dan IBI.


E. Meningkatkan pemantauan/surveilans kasus difteri dan segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan setempat apabila ditemukan kecurigaan kasus. 


HAL YANG PENTING UNTUK MASYARAKAT
  1. Kenali gejala awal difteri.
  2. Segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur < 15 tahun.
  3. Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteria agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteria.
  4. Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh kontak erat (seluruh anggota keluarga serumah, teman bermain, pengasuh) harus segera diperiksa apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dengan mengambil swab hidung dan mendapat pengobatan (eritromisin 50mg/kg berat badan selama 10 hari).
  5. Lengkapi imunisasi DPT: 
    • Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing 4 minggu; 
    • Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang); 
    • Apabila telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan 1x.
  6. Pemberian imunisasi Diphteri pada program imunisasi adalah: 
    • Pada saat bayi berusia 2, 3, 4 bulan dengan interval 4 minggu. 
    • Pada saat batita dengan memberikan booster (ulangan) pada saat bayi berusia 18 bulan (dengan jarak imunisasi DPT sebelumnya minimal 1 tahun)
    • Pada kelas 1 SD/MI melalui BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) dengan memberikan Vaksin DT
    • Pada kelas 2 dan 3 SD/MI dengan memberikan Vaksin Td
  7. Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.
Kejadian luar biasa pada difteri harus segera diatasi secara terencana, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Edukasi mengenai imunisasi harus senantiasa diberikan oleh setiap petugas kesehatan pada setiap kesempatan bertemu orang tua pasien.

Seluruh jajaran Kesehatan, lintas sektor terkait dan masyarakat diharapkan turut berpartisipasi aktif dalam memberantas difteri dan meningkatkan cakupan imunisasi DPT.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)



Jumat, 30 Januari 2015

Mengenal Listeria Monocytogenes

Padang, 30 Januari 2015

Kementerian Perdagangan Republik Indonesia telah melarang perdagangan dua jenis apel impor dari luar negeri jenis Granny Smith dengan merek dagang “Granny’s Best” atau “Big B” dan apel jenis Gala dengan merek dagang “Big B” dari perusahaan Bidart Bros, karena tercemar bakteri Listeria monocytogenes. (Siaran Pers Balai POM, 26 Januari 2015)


1. Bakteri Listeria monocytogene

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa satu sampai 10% manusia mungkin memiliki Listeria monocytogene di dalam ususnya. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah, silage (pakan ternak yang dibuat dari daun-daunan hijau yang diawetkan dengan fermentasi), dan sumber-sumber alami lainnya seperti feses ternak.

Bakteri Listeria monocytogenes juga dapat tersebar luas dan dapat ditemukan di air, limbah rumah pemotongan hewan, susu dari sapi normal atau mastitis, bahkan pada feses manusia.

Pada bahan pangan, bakteri ini dapat mengontaminasi sayuran mentah, buah, salad, susu murni, soft cheese, daging dan produk daging, unggas, sauerkraut (kubis fermentasi), dan makanan laut. Selain itu, makanan siap saji juga dapat menyebabkan adanya keracunan makanan akibat bakteri ini.

Listeria monocytogenes sangat kuat dan tahan terhadap panas, asam, dan garam. Ia juga tahan terhadap pembekuan dan dapat tumbuh pada suhu 4 derajat celcius, khususnya pada makanan yang disimpan di lemari pendingin. Listeria monocytogenes juga dapat membentuk biofilm, wujudnya seperti lapisan lendir pada permukaan makanan.

2. Gejala pada manusia

Bakteri tersebut bisa menyebabkan penyakit listeriosis pada manusia. Bahkan akibatnya apel yang mengandung bakteri Listeria monocytogenes, yang berasal dari Amerika Serikat itu, pun telah menelan korban. Sebanyak 7 orang meninggal dan puluhan lainnya dirawat di rumah sakit.

Bakteri Listeria monocytogenes termasuk salah satu penyebab penyakit yang serius dengan tingkat kematian sekitar 20 – 30 persen. Bahkan tingkat kematian pada bayi yang baru lahir dengan Listeria monocytogenes mencapai 25 sampai 50 persen.

Bakteri Listeria monocytogenes pada tubuh manusia menyebabkan infeksi serius dan fatal pada bayi, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Sedangkan, orang yang dalam kondisi sehat yang terinfeksi bakteri ini kemungkinan akan mengalami gejala jangka pendek seperti demam tinggi, sakit kepala parah, pegal, mual, sakit perut dan diare. Sementara pada ibu hamil infeksi Listeria monocytogenes dapat menyebabkan keguguran.

Gejala terkena penyakit listeriosis ternyata tidak langsung muncul setelah mengonsumsi apel yang mengandung bakteri. Gejala listeriosis baru muncul antara 3 sampai 70 hari setelah infeksi. Tapi umumnya muncul sekitar 21 hari setelah terinfeksi.

Gejala umum penyakit listeriosis mencakup:
  • sakit demam, nyeri otot, dan mual atau diare.
  • Jika infeksi menyebar ke sistem saraf pusat, gejala yang terjadi yaitu sakit kepala, leher kaki, kebingungan, kehilangan keseimbangan, dan kejang. 
  • Bahkan jika orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, bakteri ini dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan infeksi otak atau meningitis.
Sementara itu, pada wanita hamil yang terinfeksi bakteri ini, akan mengalami flu ringan. Lebih jauh lagi, infeksi yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, infeksi terhadap bayinya yang baru lahir, atau bayi yang dilahirkan tidak akan selamat.

Sedangkan pada bayi yang baru lahir biasanya tak terlihat gejala apapun. Gejala biasanya muncul pada minggu pertama kehidupan, tetapi juga dapat terjadi di kemudian hari. Bayi yang terinfeksi bakteri ini akan lekas marah, demam, dan tidak mau makan.

3. Langkah-Langkah Pencegahan

Pada prinsipnya, UU RI Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan (pasal 1) mendefinisikan keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan (pasal 2 ayat1) menyatakan bahwa dalam rangka keamanan pangan, setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan pada rantai pangan yang meliputi proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, dan peredaran pangan wajib memenuhi persyaratan sanitasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu, pemenuhan persyaratan sanitasi di seluruh kegiatan rantai pangan dilakukan dengan cara penerapkan pedoman cara yang baik (pasal 3), meliputi: 
  1. Cara Budidaya yang Baik (Kementerian Pertanian, Perikanan atau Kehutanan); 
  2. Cara Produksi Pangan Segar yang Baik (Kementerian Pertanian atau Perikanan); 
  3. Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (Badan Pengawasan Obat dan Makanan); 
  4. Cara Distribusi Pangan yang Baik (Kementerian Perindustrian, Pertanian atau Perikanan); 
  5. Cara Ritel Pangan yang Baik (Badan Pengawasan Obat dan Makanan); serta 
  6. Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik (Kementerian Kesehatan).
Karena itu, Kementerian Kesehatan RI memberikan beberapa langkah pencegahan, utamanya dalam perilaku konsumsi masyarakat, agar terhindar dari infeksi bakteri Listeria, yaitu: 
  1. Bilas bahan mentah dengan air mengalir, seperti buah-buahan dan sayuran, sebelum dimakan, dipotong, atau dimasak. Bahkan jika hasil tersebut sudah dikupas, tetap harus dicuci terlebih dahulu; 
  2. Menggosok produk hasil pertanian, seperti melon dan mentimun, dengan menggunakan sikat bersih sebelum disimpan, dan keringkan produk dengan kain bersih atau kertas; 
  3. Pisahkan daging mentah dan unggas dari sayuran, makanan matang, dan makanan siap-saji; 
  4. Cuci peralatan masak, berupa alat atau alas pemotong, yang telah digunakan untuk daging mentah, unggas, produk-produk hewani sebelum digunakan pada produk makanan lainnya; serta 
  5. Cuci tangan menggunakan sabun sebelum mengolah makanan, dan saat akan makan.
Pencegahan secara total mungkin tidak dapat dilakukan, namun makanan yang dimasak, dipanaskan dan disimpan dengan benar umumnya aman dikonsumsi karena bakteri ini akan mati pada temperatur 75 derajat celcius.

4. Upaya Kementerian Kesehatan dalam Rangka Keamanan Pangan

Dalam rangka pencegahan dan kewaspadaan dini terhadap munculnya penyakit listeriosis di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI membuat surat edaran kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP dan PL), yakni Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan Balai/Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit (BBTKL-PP) di seluruh Indonesia untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan kewaspadaan dini serta melaporkan secepatnya dalam waktu 1 x 24 jam jika ditemukan kasus listeriosis sesuai wilayah kerja masing-masing untuk segera ditindaklanjuti.

Beberapa upaya lainnya yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI dalam rangka Keamanan Pangan sesuai peraturan perundangan, antara lain:
  1. Penyusunan dan penguatan terhadap pengaturan norma, standar, pedoman dan kriteria terhadap implementasi keamanan pangan melalui pengelolaan hygiene sanitasi pangan (HSP) siap saji yang terstandar;
  2. Peningkatan jaminan mutu terhadap konsumen atas pangan siap saji, melalui upaya sbb:
    • Penguatan pembinaan dan pengawasan secara berjenjang melalui peran pusat sampai dengan tingkat propinsi dan kabupaten/kota melalui pemetaan faktor risiko kualitas pangan siap saji melalui e-Monev HSP di seluruh Tempat Pengelolaan Pangan Siap Saji (rumah makan/restoran, Jasaboga, makanan jajanan, depot air minum) sebagai peningkatan kewaspadaan dini kejadian penyakit bawaan pangan dan KLB keracunan pangan.
    • Sosialisasi dan advokasi kepada jajaran Pemerintah Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota dalam rangka sinergitas pengelolaan pelaksanaan higiene sanitasi pangan siap saji yang terstandar.
    • Peningkatan performance pertugas kabupaten/kota dalam melaksanakan analisis cepat kualitas pangan siap saji melalui penyediaan alat deteksi cepat pemeriksaan kualitas pangan siap saji.
    • Percepatan petugas dalam pelaksanaan sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB keracunan pangan melalui orientasi petugas kabupaten/kota.
    • Implementasi keamanan pangan pada tingkat rumah tangga dan sekolah melalui kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten/kota.
    • Meningkatkan peran Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang memiliki peran fungsi cegah tangkal dalam penularan penyakit. Sebagai salah satu tugas yang dilaksanakan dengan melaksanakan pengawasan ketat terhadap keluar masuknya orang ataupun barang yang dicurigai dapat mengkontaminasi atau terkontaminasi menimbulkan penyakit, dan 
    • Dukungan pemeriksaan laboratorium sampel pangan oleh Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit yang terdapat di 10 Kota di Indonesia.
  3. Memanfaatkan sistem respon cepat terhadap KLB keracunan pangan dalam sistem SMS Gateway sehingga informasi terkait KLB keracunan pangan dapat tertanggulangi dengan cepat dan tepat. Hal ini diperkuat juga dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (Bagian 4 pasal 18) disebutkan bahwa dalam rangka pencegahan meluasnya KLB keracunan pangan perlu dilakukan upaya penyuluhan pada masyarakat, pengendalian faktor risiko dan kegiatan surveilans.
Sebagai hasil dari pengelolaan hygiene sanitasi pangan yang terstandar adalah minimalisasi kejadian penyakit bawaan pangan dan KLB keracunan pangan.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)