Kamis, 05 Februari 2015

Dialog Interaktif Tentang Difteri dan ORI di Kota Padang

Padang, 5 Februari 2015

Pada hari ini di Padang TV, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, didampingi oleh dr. Iskandar Syarif, SpA(k) melakukan dialog interaktif di TVRI, menyikapi Kota Padang yang saat ini dalam keadaan KLB Difteri.

Dialog Interaktif diawali dengan penjelasan apa itu difteri oleh dr. Iskandar Syarif, SpA(k), bahwa penyakit difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (tonsil, faring dan hidung) dan kadang pada selaput lendir dan kulit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Corynebacterium diphteriae. Semua golongan umur baik anak-anak maupun orang dewasa dapat tertular oleh penyakit ini. Namun anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun sangat beresiko tertular penyakit Difteri.

Perlu dijelaskan supaya masyarakat tidak salah paham, kasus sampai saat ini 9 orang, meninggal 2 orang dan pada umunya mengenai anak SD yang berusia diatas 5 (lima) tahun, ini disebabkan karena imunisasi yang tidak lengkap, vaksin yang tidak bagus, bahkan ada yang imunisasinya tidak ada sama sekali, demikian Gubernur Irwan Prayitno mengawali dialog ini.

Beberapa pasien memang dirawat di RS, yang terpenting adalah mereka-mereka yang tidak terkena itu kita imunisasi dengan baik mulai dari umur 2 bulansampai 15 tahun, agar rantai penularan dapat kita putus. Anak-anak harus diimunisasi secara lengkap sehingga kemungkinan tertular kecil, yang kita lakukan adalah sosialisasi melalui puskesmas, PAUD, Posyandu dan sekolah-sekolah. Imunisasi ini diberikan gratis di Posyandu dan sekolah-sekolah.

Dr. Iskandar, SpA(k) menambahkan bahwa selain lingkungan yang kotor penyebaran difteri itu adalah melalui orang sakit atau orang yang membawa saja (carrier), jika dia batuk atau bersin dan mengenai anak-anak yang tidak terimunisasi dengan baik bias menyebabkan penyakit, cara yang terbaik adalah kita melakukan imunisasi untuk anak-anak kita sehingga dia memperoleh daya tahan yang bagus.

Kasus ini muncul 2 tahun kebelakang, mungkin disebabkan karena capaian program imunisasi yang kurang bagus. Diberikan ADS (Anti Difteri Serum), maka kumannya akan hilang, tapi kekebalan dari ADS tidak lama, jadi anak yang sudah terkena juga harus dilengkapi imunisasinya. Penderita dirawat di ruangan isolasi khusus dan diberikan ADS serta antibiotik

Pemerintah daerah sudah melakukan langkah-langkah praktis, Gubernur Irwan Prayitno menyampaikan 1 orang yang kena sudah kita nyatakan sebagai KLB, untuk memutus rantai penularan dari yang carrier atau yang sakit, maka kita lakukan ORI . Anak dengan gejala difteri, demam, sesak dan sakit tenggorokan, langsung dibawa ke sarana pelayanan Kesehatan terdekat, dan jika tersangka difteri langsung diisolasi di RS.

Salah satu penanya Ibu Iyah dari Seberang Padang, mempunyai cucu berumur 4 tahun 5 bulan, imunisasinya Alhamdulillah lengkap. Apakah perlu diimunisasi lagi. Dr. Iskandar menyampaikan bahwa Imunisasi dasar untuk anak diberikan imunisasi 3 kali usia 2, 3 dan 4 bulan. Dan perlu diberikan booster pada usia 18-36 bulan sebanyak 1 kali. Saat ini karena adanya KLB Difteri, maka tanpa memandang status imunisasi, anak harus kita imunisasi sebanyak 2 kali, bulan ke 0, 1 dan ke 6 tambah Gubernur Irwan Prayitno.

Jika kita lihat kasus ini rata-rata berumur diatas 5 tahun, maka ini juga diakibatkan karena imunisasi di masa lalu, baru terdampak sekarang. Gubernur menghimbau pada masyarakat untuk melengkapi imunisasi pada anak-anak yang belum diimunisasi, selain itu ada vaksin BCG untuk TBC, Campak, Polio untuk mencegah Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Sekarang sudah KLB, yang penting lagi adalah ke depannya, anak-anak kita harus diimunisasi, jangan ada yang tidak mau datang. Semua anak usia 2 bulan sampai 15 tahun harus diimunisasi dan saat ini sudah dikerjakan oleh Dinas Kesehatan, dan saat ini sedang dilakukan di Posyandu, di PAUD, SD/MI dan SMP/Sederajat.

Penyebabnya adalah kurangnya imunisasi pada diri seseorang, kalau masyarakat sudah lengkap imunitasnya kecil kemungkinan tertularnya. Misalnya ada 4 (orang) yang carrier atau pembawa, maka dia akan menularkan padahal dia sendiri tidak sakit. Saat ini mungkin kondisi imunitas anaknya menurun, maka terjangkit difteri, demikian Gubernur Irwan Prayitno, yang memang sejak dahulu sangat mendukung program imunisasi menyampaikan. 

Beliau juga menambahkan bahwa masalahnya adalah saat ini banyak masyarakat yang merasa tidak perlu anaknya diimunisasi, ada yang mengatakan bahwa vaksin ini haram. Ini fakta dan data yang tidak bias kita pungkiri, bahwa imunisasi itu penting untuk buah hati kita. Ini sebagai bukti bahwa imunisasi itu penting. Akan ada petugas yang ditugaskan untuk memberitahu kepada masyarakat perihal pentingnya imunisasi, kapan harus datang untuk imunisasi. Zaman dahulu, misalnya ada di Zaman Mesir Kuno, Yunani dan lain-lain, ada sekelompok masyarakat yang punah karena suatu penyakit. Karena kita tak mau itu terjadi secepatnya kita Lakukan ORI.

Menurut Bapak Gubernur, langkah-langkah yang sudah dilakukan Pemda adalah
  • Memberi dukungan yang seluas-luasnya kepada Dinas Kesehatan sebagai leading sektor untuk mengerahkan upaya-upaya teknis yang dianggap perlu untuk mencegah perkembangan difteri di Kota Padang pada khususnya dan Provinsi Sumatera Barat pada umumnya.
  • Menghimbau instansi SKPD dan lintas sektor terkait seperti Dinas Pendidikan, BPBD, Badan Pemberdayaan Masyarakat, LKAAM, MUI untuk dapat mendukung upaya teknis pencegahan terutama pelaksanaan ORI (Out break Respons Immunisazation) se Kota Padang.
  • Membuat edaran ke seluruh Kabupaten/Kota untuk meningkatkan upaya peningkatan cakupan imunisasi dasar pada bayi, balita dan anak sekolah utuk upaya perlindungan jangka panjang terhadap perkembangan difteri dan KLB PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) lainnya dan melakukan surveilans ketat terhadap kasus dengan gejala difteri agar kasus ini tidak menyebar ke kabupaten/kota lainnya.
  • Melakukan penyuluhan melalui media cetak, media TV, media radio.
Saat ini imunisasi yang dilakukan pemerintah sudah semakin membaik, misalnya pada vaksin Pentavalen dalam sekali suntik ada 5 penyakit yang dapat dicegah yaitu DPT, Hb dan HiB. Vaksin-vaksin ini dibuat di Biofarma, yang mana 117 negara yang kebanyakan Negara muslim ikut mengimport. Tidak semua vaksin yang bersentuhan dengan babi, hanya beberapa vaksin, tetapi juga sudah ada fatwa MUI nya untuk menggunakan nya. Selain itu kita harus memperhatikan kasus campak juga. Dukungan ulama sangat penting dalam hal ini, menurut Dr. Iskandar Syarif, SpA(k)

Kejadian ini tidak akan terjadi kalau semua orangtua sadar bahwa imunisasi ini penting untuk anak-anak kita, untuk menghindari penyakit yang sifatnya menular. Kami mohon pada orang tua untuk melengkapi imunisasi anaknya, dan khusus dalam keadaan KLB Difteri ini orangtua yang anaknya berumur 2 bulan sampai 15 tahun pastikan anaknya mendapat vaksinasi di Posyandu, Puskesmas, sekolah-sekolah, himbau Gubernur Irwan Prayitno mengakhiri Dialog Interaktif ini.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar