Sabtu, 28 November 2015

Jaminan Perlindungan Keselamatan Penumpang Umum Kapal Wisata Di Kabupaten Pesisir Selatan


Padang, 27 November 2015

Setelah sukses dalam melaksanakan Kegiatan Pekan Keselamatan di Jalan Pada Tahun 2014, di penghujung Tahun 2015 ini, kembali Jejaring Kemitraan Kabupaten Pesisir Selatan melakukan sebuah terobosan dalam Program Gangguan Akibat Kecelakaan dan Tindak Kekerasan (GAKTI), yaitu dengan menerbitkan Peraturan Bupati Nomor 60 Tahun 2015 Tentang Jaminan Perlindungan Keselamatan Penumpang Umum Kapal Wisata pada tanggal 27 November 2015



Upaya di bidang GAKTI bertugas untuk nelaksanakan penyiapan bahan perumusan dan pelaksanaan kebijakan dan penyusunan norma, standar, prosedur dan kriteria serta bimbingan teknis, kerjasama/kemitraan, pemantauan evaluasi dan penyusunan laporan dibidang pengendalian gangguan akibat Kecelakaan dan Tindak Kekerasan.

Dengan diterbitkannya Peraturan Bupati Nomor 60 Tahun 2015 Tentang Jaminan Perlindungan Keselamatan Penumpang Umum Kapal Wisata pada tanggal 27 November 2015 akan mendukung Program Dinas Kesehatan di Untuk Penanganan Kecelakaan dan selalu menjadi pengingat kepada masyarakat bahwa transportasi wisata ini bisa juga menimbulkan kecelakaan mulai dari ringan sampai berakibat kematian.
Pada dasarnya wisatawan berhak atas perlindungan hukum dan keamanan serta perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata yang berisiko tinggi. Di sisi lain, pengusaha pariwisata berkewajiban untuk memberikan kenyamanan, perlindungan keamanan, dan keselamatan wisatawan serta memberikan perlindungan asuransi pada usaha pariwisata dengan kegiatan yang berisiko tinggi. Jika terjadi kecelakaan di lokasi objek wisata dan bukan karena kesalahan wisatawan, maka yang bertanggung jawab adalah penyelenggara pariwisata. 

Salah satu cara mengelola risiko itu ialah menggunakan jasa pihak ketiga seperti perusahaan asuransi yang berfungsi menerima risiko atas pengunjung dan infrastuktur wisata apabila terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Misalnya saja bekerja sama dengan perusahaan PT Asuransi Jasaraharja, demikian papar Kadishub dan Kominfo Kabupaten Pesisir Selatan, Drs. Iqbal Rama Dipayana, M.Si.

Adanya jaminan perlindungan keselamatan penumpang umum kapal wisata di Kabupaten Pesisir Selatan, yang didukung dengan peraturan yang mengatur secara eksplisit sehingga implementasi dari peraturan ini belum berjalan secara optimal dan menyeluruh adalah sebuah upaya menjamin keselamatan wisatawan di daerah ini.

"Perbup ini harus diterapkan di Kab. Pesisir Selatan saat ini karena Kab. Pesisir Selatan telah menjadi destinasi wisata pantai dan laut yang sangat di minati oleh wisatawan dari daerah maupun mancanegara. Dengan adanya aturan Pemkab Pessel yang menjamin keselamatan wisatawan dalam menggunakan kapal wisata umum maka wisatawan pun akan merasa nyaman dalam menggunakan kapal wisata umum" tambah Iqbal mengakhiri wawancara

(DR. dr. Irene, MKM)

Rabu, 03 Juni 2015

Forum Kemitraan Peduli Imunisasi


Padang, 3 Juni 2015

Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, imunisasi merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit menular yang merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementerian Kesehatan sebagai salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs) khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak.

Kegiatan imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Mulai tahun 1977 kegiatan imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI) dalam rangka pencegahan penularan terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus serta Hepatitis B.

Implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Imunisasi didefinisikan bahwa imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Pertemuan Sosialisasi Forum Kemitraan
Provinsi Sumatera Barat
Untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk Penyakit Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan campak. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan campak 1 kali.

Masalah yang dihadapi adalah munculnya kembali PD3I yang sebelumnya telah berhasil ditekan sebagai akibat dari masih belum tercapainya cakupan imunisasi dasar ini.
SK Forum Kemitraan Sumbar
Penguatan di sisi supply secara rutin setiap tahun dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan dengan semakin menguatnya kegiatan disisi demand melalui kemitraan diharapkan kesinambungan dan keberhasilan program imunisasi dimasa mendatang semakin terjamin.

Kemitraan harus digalang dengan baik dalam rangka pemberdayaan maupun bina suasana dan advokasi guna membangun kerjasama dan mendapatkan dukungan. 
Provinsi Sumatera Barat membentuk Forum Kemitraan Peduli Imunisasi Provinsi Sumatera Barat melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 050-370-2015 Tentang Forum Kemitraan Peduli Imunisasi Sumatera Barat, yang terdiri dari individu, keluarga, pejabat atau instansi pemerintah yang terkait dengan urusan kesehatan (lintas sektor), organisasi profesi, agama, kesejahteraan keluarga, pemuka atau tokoh masyarakat, media massa dan lain-lain, dimana kemitraan ini harus berlandaskan pada tiga prinsip dasar yaitu kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan dalam rangka meningkatkan cakupan imunisasi.
Penandatanganan MOU
Pada tanggal 29 Mei 2015, dilakukan Sosialisasi Forum Kemitraan tingkat Provinsi Sumatera Barat dan pada saat yang sama dilakukan Penandatanganan MOU antara Dinas Kesehatan dengan Mitra Imunisasi dan Peluncuran Buku Panduan Mitra Imunisasi ditandai dengan Penyerahan Secara Simbolis SK dan Buku Panduan Mitra kepada Ketua Forum Kemitaan Prof. DR. dr. Rizanda Machmud, M.Kes.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Dr. Hj. Rosnini Savitri, M.Kes untuk meningkatkan cakupan imunisasi dasar pada bayi berusia 0-11 bulan, Dinas Kesehatan sudah berupaya maksimal, akan tetapi masih saja ada kendala-kendala seperti adanya mitos-mitos tentang imunisasi, selain itu juga kami masih membutuhkan penguatan pada petugas kami di lapangan. Dengan adanya Forum Kemitraan ini diharapkan kita semua bisa berbagi peran untuk mensukseskan program imunisasi, organisasi dapat membantu dalam menjawab mitos negatif, organisasi profesi dapat memperkuat semua anggotanya agar mampu dan peduli dalam melaksanakan imunisasi dan universitas/Poltekkes dapat berkontribusi agar sejak dalam proses pendidikan mahasiswa sudah mempunyai pengetahuan tentang imunisasi. Dengan itu nantinya tidak ada lagi Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti KLB Diferi yang kita alami sekarang ini.

Penandatanganan MOU
Ketua Forum Kemitraan Peduli Imunisasi Sumatera Barat, Prof. DR. dr. Rizanda Machmud, M.Kes. dalam presentasinya menyampaikan bahwa dengan forum ini kita bisa bersama-sama mewujudkan imunisasi yang tinggi dan merata. Pemerintah selalu menyerukan vaksinasi dan imunisasi pada bayi. Di sisi lain, tidak sedikit yang menentangnya dengan alasan daya tahan tubuh alami manusia sudah cukup untuk menangkal berbagai penyakit. Mengapa kini banyak yang menentang vaksin bayi? 

Penyerahan SK Forum dan Peluncuran
Buku Panduan Mitra Secara Simbolis
Saya baca dan baca, rata-rata isinya sama, artikel yang sama, dicopy paste berulang-ulang dari satu situs ke situs yang lain dari satu blog ke blog yang lain. Yang membuat saya tambah mangap dan tergeleng-geleng, artikel tersebut seolah-olah benar-benar evidence based, mencatut nama ahli-ahli, penelitian-penelitian, data dan angka, meyakinkan nian. Katanya vaksin yang dipakai dibuat dinegara asing, padahal kan Vaksin itu dibuat oleh Biofarma, di produksi di Indonesia, diekspor ke 120 negara termasuk 36 negara-negara Islam yang tergabung di dalam OKI. Untuk menyikapi ini perlu pendekatan holistik (memahami  dan memperhitungkan semua aspek dan dimensinya, juga saling keterkaitannya, namun memfokuskan pada implementasi aspek/dimensi tertentu dengan membangun sinergi) untuk itu perlu menggalang forum kemitraan.

Buku Panduan Mitra

Dibutuhkan kemitraan yang setara dan sinergis dengan berbagai pihak dan kemitraan antara Pemerintah, Pemda, LSM, dunia usaha, universitas, tokoh/pemuka masyarakat, donor serta lembaga internasional, dan lainnya, berbagi peran dan tanggung jawab. Iklim yang kondusif untuk menggalang kemitraan dalam promosi kesehatan secara lebih efektif dengan membuka peluang pemanfaatan energi kreatif masyarakat dan membangun kepemilikan bersama agar hasil segera terlihat dapat menjadi target dari langkah-langkah cepat, disamping upaya-upaya promosi lainnya yang berjangka menengah dan panjang.

Pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyampaikan bahwa saat ini kami sedang membuat Peraturan Gubernur tentang Tata Cara Penyelenggaraan Imunisasi, untuk kemudian dilaksanakan dan disempurnakan menjadi Peraturan Daerah nantinya.

(Posted by : DR. dr. Irene, MKM)

Kamis, 05 Februari 2015

Dialog Interaktif Tentang Difteri dan ORI di Kota Padang

Padang, 5 Februari 2015

Pada hari ini di Padang TV, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, didampingi oleh dr. Iskandar Syarif, SpA(k) melakukan dialog interaktif di TVRI, menyikapi Kota Padang yang saat ini dalam keadaan KLB Difteri.

Dialog Interaktif diawali dengan penjelasan apa itu difteri oleh dr. Iskandar Syarif, SpA(k), bahwa penyakit difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (tonsil, faring dan hidung) dan kadang pada selaput lendir dan kulit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Corynebacterium diphteriae. Semua golongan umur baik anak-anak maupun orang dewasa dapat tertular oleh penyakit ini. Namun anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun sangat beresiko tertular penyakit Difteri.

Perlu dijelaskan supaya masyarakat tidak salah paham, kasus sampai saat ini 9 orang, meninggal 2 orang dan pada umunya mengenai anak SD yang berusia diatas 5 (lima) tahun, ini disebabkan karena imunisasi yang tidak lengkap, vaksin yang tidak bagus, bahkan ada yang imunisasinya tidak ada sama sekali, demikian Gubernur Irwan Prayitno mengawali dialog ini.

Beberapa pasien memang dirawat di RS, yang terpenting adalah mereka-mereka yang tidak terkena itu kita imunisasi dengan baik mulai dari umur 2 bulansampai 15 tahun, agar rantai penularan dapat kita putus. Anak-anak harus diimunisasi secara lengkap sehingga kemungkinan tertular kecil, yang kita lakukan adalah sosialisasi melalui puskesmas, PAUD, Posyandu dan sekolah-sekolah. Imunisasi ini diberikan gratis di Posyandu dan sekolah-sekolah.

Dr. Iskandar, SpA(k) menambahkan bahwa selain lingkungan yang kotor penyebaran difteri itu adalah melalui orang sakit atau orang yang membawa saja (carrier), jika dia batuk atau bersin dan mengenai anak-anak yang tidak terimunisasi dengan baik bias menyebabkan penyakit, cara yang terbaik adalah kita melakukan imunisasi untuk anak-anak kita sehingga dia memperoleh daya tahan yang bagus.

Kasus ini muncul 2 tahun kebelakang, mungkin disebabkan karena capaian program imunisasi yang kurang bagus. Diberikan ADS (Anti Difteri Serum), maka kumannya akan hilang, tapi kekebalan dari ADS tidak lama, jadi anak yang sudah terkena juga harus dilengkapi imunisasinya. Penderita dirawat di ruangan isolasi khusus dan diberikan ADS serta antibiotik

Pemerintah daerah sudah melakukan langkah-langkah praktis, Gubernur Irwan Prayitno menyampaikan 1 orang yang kena sudah kita nyatakan sebagai KLB, untuk memutus rantai penularan dari yang carrier atau yang sakit, maka kita lakukan ORI . Anak dengan gejala difteri, demam, sesak dan sakit tenggorokan, langsung dibawa ke sarana pelayanan Kesehatan terdekat, dan jika tersangka difteri langsung diisolasi di RS.

Salah satu penanya Ibu Iyah dari Seberang Padang, mempunyai cucu berumur 4 tahun 5 bulan, imunisasinya Alhamdulillah lengkap. Apakah perlu diimunisasi lagi. Dr. Iskandar menyampaikan bahwa Imunisasi dasar untuk anak diberikan imunisasi 3 kali usia 2, 3 dan 4 bulan. Dan perlu diberikan booster pada usia 18-36 bulan sebanyak 1 kali. Saat ini karena adanya KLB Difteri, maka tanpa memandang status imunisasi, anak harus kita imunisasi sebanyak 2 kali, bulan ke 0, 1 dan ke 6 tambah Gubernur Irwan Prayitno.

Jika kita lihat kasus ini rata-rata berumur diatas 5 tahun, maka ini juga diakibatkan karena imunisasi di masa lalu, baru terdampak sekarang. Gubernur menghimbau pada masyarakat untuk melengkapi imunisasi pada anak-anak yang belum diimunisasi, selain itu ada vaksin BCG untuk TBC, Campak, Polio untuk mencegah Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Sekarang sudah KLB, yang penting lagi adalah ke depannya, anak-anak kita harus diimunisasi, jangan ada yang tidak mau datang. Semua anak usia 2 bulan sampai 15 tahun harus diimunisasi dan saat ini sudah dikerjakan oleh Dinas Kesehatan, dan saat ini sedang dilakukan di Posyandu, di PAUD, SD/MI dan SMP/Sederajat.

Penyebabnya adalah kurangnya imunisasi pada diri seseorang, kalau masyarakat sudah lengkap imunitasnya kecil kemungkinan tertularnya. Misalnya ada 4 (orang) yang carrier atau pembawa, maka dia akan menularkan padahal dia sendiri tidak sakit. Saat ini mungkin kondisi imunitas anaknya menurun, maka terjangkit difteri, demikian Gubernur Irwan Prayitno, yang memang sejak dahulu sangat mendukung program imunisasi menyampaikan. 

Beliau juga menambahkan bahwa masalahnya adalah saat ini banyak masyarakat yang merasa tidak perlu anaknya diimunisasi, ada yang mengatakan bahwa vaksin ini haram. Ini fakta dan data yang tidak bias kita pungkiri, bahwa imunisasi itu penting untuk buah hati kita. Ini sebagai bukti bahwa imunisasi itu penting. Akan ada petugas yang ditugaskan untuk memberitahu kepada masyarakat perihal pentingnya imunisasi, kapan harus datang untuk imunisasi. Zaman dahulu, misalnya ada di Zaman Mesir Kuno, Yunani dan lain-lain, ada sekelompok masyarakat yang punah karena suatu penyakit. Karena kita tak mau itu terjadi secepatnya kita Lakukan ORI.

Menurut Bapak Gubernur, langkah-langkah yang sudah dilakukan Pemda adalah
  • Memberi dukungan yang seluas-luasnya kepada Dinas Kesehatan sebagai leading sektor untuk mengerahkan upaya-upaya teknis yang dianggap perlu untuk mencegah perkembangan difteri di Kota Padang pada khususnya dan Provinsi Sumatera Barat pada umumnya.
  • Menghimbau instansi SKPD dan lintas sektor terkait seperti Dinas Pendidikan, BPBD, Badan Pemberdayaan Masyarakat, LKAAM, MUI untuk dapat mendukung upaya teknis pencegahan terutama pelaksanaan ORI (Out break Respons Immunisazation) se Kota Padang.
  • Membuat edaran ke seluruh Kabupaten/Kota untuk meningkatkan upaya peningkatan cakupan imunisasi dasar pada bayi, balita dan anak sekolah utuk upaya perlindungan jangka panjang terhadap perkembangan difteri dan KLB PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi) lainnya dan melakukan surveilans ketat terhadap kasus dengan gejala difteri agar kasus ini tidak menyebar ke kabupaten/kota lainnya.
  • Melakukan penyuluhan melalui media cetak, media TV, media radio.
Saat ini imunisasi yang dilakukan pemerintah sudah semakin membaik, misalnya pada vaksin Pentavalen dalam sekali suntik ada 5 penyakit yang dapat dicegah yaitu DPT, Hb dan HiB. Vaksin-vaksin ini dibuat di Biofarma, yang mana 117 negara yang kebanyakan Negara muslim ikut mengimport. Tidak semua vaksin yang bersentuhan dengan babi, hanya beberapa vaksin, tetapi juga sudah ada fatwa MUI nya untuk menggunakan nya. Selain itu kita harus memperhatikan kasus campak juga. Dukungan ulama sangat penting dalam hal ini, menurut Dr. Iskandar Syarif, SpA(k)

Kejadian ini tidak akan terjadi kalau semua orangtua sadar bahwa imunisasi ini penting untuk anak-anak kita, untuk menghindari penyakit yang sifatnya menular. Kami mohon pada orang tua untuk melengkapi imunisasi anaknya, dan khusus dalam keadaan KLB Difteri ini orangtua yang anaknya berumur 2 bulan sampai 15 tahun pastikan anaknya mendapat vaksinasi di Posyandu, Puskesmas, sekolah-sekolah, himbau Gubernur Irwan Prayitno mengakhiri Dialog Interaktif ini.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

TOT Wirausaha Sanitasi STBM Regional Sumatera

Padang, 3 Februari 2015

Pemasangan baju dan tanda peserta secara simbolis
Pada tanggal 29 Januari sampai dengan 4 Februari 2015, selama 7 (tujuh) hari bertempat di Badan Diklat Provinsi Sumatera Barat, TOT Wirausaha STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ini merupakan lanjutan dari kegiatan TOT untuk Koordinator Provinsi STBM dan Fasilitator STBM Kabupaten Program Pamsimas II Tahun Anggaran 2015 pada wilayah kerja lama program Pamsimas, yang dihadiri oleh peserta dari unsur Pelaku Wirausaha STBM dari 9 provinsi di Pulau Sumatera. Acara ini dibuka oleh Kabid PP dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar, DR. dr. Irene, MKM didampingi Kasi PL Kusnadi, SKM, M.Kes pada hari Kamis, 29 Juni 2015.

Bersama peserta yang mewakili pemasangan baju
secara simbolis

Penyehatan Lingkungan dan STBM


Penyehatan Lingkungan merupakan salah satu program yang menunjang MDGs tujuan ke 7, upaya tersebut dilakukan untuk mengembangkan komitmen penyediaan sarana air minum dan sanitasi yang layak dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama dalam menurunkan angka penyakit diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air dan lingkungan.

Peserta pelatihan TOT
Implementasi Program PAMSIMAS di tingkat masyarakat telah berjalan mulai tahun 2008 berakhir tahun 2012 dan dilanjutkan dengan Program PAMSIMAS II mulai tahun 2013. Hasil monitoring terhadap implementasi tesebut menunjukkan bahwa dari empat indicator capaian Key Performance Indicator (KPI), dua diantaranya (SBS/Stop Buang Air Besar Sembarangan dan CTPS/Cuci Tangan Pakai Sabun) belum mencapai target yang ditetapkan. Secara nasional berbasis data MIS PAMSIMAS Kesehatan, status data 26 Februari 2013 pencapaian target persentase masyarakat yang stop buang air besar di sembarang tempat atau SBS (KPI 7) tercapai sebesar 45% dari target 80%. Target masyarakat yang menerapkan program Cuci Tangan Pakai Sabun dengan air mengalir (KPI 8) tercapai sebesar 67% dari 80%. 

Untuk masa yang akan datang tanggung jawang kementerian kesehatan sebagai lembaga pelaksana program Pamsimas II komponen Kesehatan meliputi :
  • Melakukan pembinaan pelaksanaan program dalam perbaikan perilaku hygiene dan sanitasi
  • Mengendalikan upaya pencapaian Key Performance Indicator (KPI) komponen kesehatan
  • Memfasilitasi penerapan/pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)
  • Menyediakan dan membina fasilitator STBM di tingkat Kabupaten
  • Menyiapkan sanitarian di tingkat Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan program Pamsimas Kesehatan dalam pencapaian target program
Pelaksanaan TOT Wira Usaha STBM

Praktek lapangan bersama peserta
Pelatihan ini diikuti oleh 80 orang dari Fasilitator STBM Kabupaten, Koordinator STBM Provinsi dan Pelaku Wirausaha STBM yang terdiri dari Provinsi Aceh 4 orang, Sumatera Utara 16 orang, Riau 6 orang, Kepri 3 orang, Sumatera Barat 11 orang, Jambi 6 orang, Bengkulu 7 orang, Bangka Belitung 2 orang, Sumatera Selatan 20 orang dan Lampung 5 orang

Secara umum tujuan TOT Wirausaha STBM bagi Fasilitator dan Koordinator STBM dan Pelaku Wirausaha STBM ini adalah Meningkatkan pemahaman peserta sebagai pemandu dalam memfasilitasi peningkatan kapasitas petugas dan masyarakat dalam bidang Wirausaha STBM serta meningkatkan akses sanitasi melalui Wirausaha STBM yang mendiri dan berkelanjutan sebagai upaya menguatkan pasar sanitasi pedesaan dalam mendukung capaian program Pamsimas Komponen Kesehatan.

Cara pembuatan jamban
 Secara khusus, diharapkan agar dapat: 
  1. Meningkatkan ketrampilan peserta dalam memfasilitasi pelatihan pengembangan Wirausaha STBM 
  2. Memberikan pembekalan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta untuk dapat mendampingi para pelaku Wirausaha STBM dalam hal: 
    • Menciptakan dan menemukan peluang pasar sanitasi pedesaan melalui serangkaian aktifitas promosi;
    • Memanfaatkan peluang potensi pasar sanitasi menjadi peluang usaha sanitasi yang mandiri dan berkelanjutan;
    • Mengembangkan produk dan layanan sanitasi sesuai yang kebutuhan pasar sanitasi pedesaan;
    • Tertib administrasi pembukuan dan keuangan secara konsisten sebagai salah satu syarat untuk tumbuh berkembangnya sebuah usaha secara berkelanjutan;
  3. Mengembangkan strategi dan dukungan pasca pelatihan untuk pengembangan wirausaha STBM diwilayah dampingan masing-masing peserta.
Maket jamban yang akan dibuat
Materi yang akan dipelajari pada TOT Pelatihan Wirausaha STBM meliputi:
  1. Belajar Bersama 
  2. Kebijakan dan Strategi Nasional STBM
  3. Konsep Dasar STBM
  4. Motivasi Wira Usaha STBM
  5. Jejaring Pemasaran dan Jasa STBM
  6. Produk dan Jasa STBM
  7. Proses Produksi dan Jasa STBM
  8. Teknik Komunikasi dan Presentasi Produk dan Jasa STBM
  9. Praktek Menjual dan Praktek Produksi
  10. Administasi Pembukuan dan Management Keuangan Sederhana
  11. Rencana Bisnis
  12. Monitoring dan Evaluasi Wira Usaha STBM
  13. Teknik Melatih
  14. Monev dan Dukungan Pasca Pelatihan.
  15. RKTL
  16. Evaluasi Pelatihan
Materi tersebut di atas selanjutnya diuraikan lebih rinci dalam kurikulum dan agenda/jadwal untuk pelatihan.


Metode yang digunakan dalam kegiatan pelatihan ini menggunakan prinsip pendidikan orang dewasa dimana peserta menjadi pelaku utama dalam rangka mencapai tujuan kegiatan pelatihan. Adapun metode yang digunakan untuk menunjang proses TOT Wirausaha STBM ini antara lain adalah ceramah, curah pendapat, diskusi kelompok, diskusi pleno, bermain peran dan penugasan serta praktek lapangan.

Output yang diharapkan dari pelaksanaan TOT Wirausaha STBM untuk Koordinator Provinsi, Fasilitator STBM Kabupaten dan Pelaku Wirausaha STBM ini adalah: 
  1. Tersedianya tenaga pemandu pelatihan wirausaha STBM di setiap provinsi lokasi Pamsimas sesuai kebutuhan.
  2. Tersedianya tenaga pendamping yang mampu mendampingi pelaku wirausaha STBM di wilayah kerja serta dapat menjadi pendorong dalam pelaksanaan kegiatan wirausaha di wilayah dampingan.
  3. Tersusunnya RKTL Pelatihan Wirausaha STBM ditingkat Provinsi dan jadwal penyusunan buku peta pengembangan wirausaha sanitasi tingkat provinsi dan kabupaten (Target pasar, Jumlah Wirausaha STBM, lembaga keuangan mikro dan lainya yang berpotensi untuk bermitra).
Pelatihan ini akan dipandu 7 orang pemandu dari unsur WSP, TDS dan CMAC dan Advisory Pamsimas. 

Praktek Lapangan

Suasana Praktek Lapangan
Pada Pelatihan ini dilakukan Praktek Lapangan di Kecamatan Lubuk Kilangan dengan membuat percontohan jamban 3-3-1 di 6 (enam) titik dan pada kesempatan ini ada 32 orang masyarakat yang sudah memberi uang muka untuk membeli jamban.

Para peserta pelatihan membuat jamban di titik-titik yang telah dipilih sebagai lokasi pembuatan jamban ini. Masyarakat juga tertaring dengan contoh jamban yang akan dibuat dan memesan jamban tersebut.

Pencapaian kegiatan STBM di Provinsi Sumatera Barat

Untuk kegiatan STBM dengan lima pilar, Propinsi Sumatera Barat sudah sudah melaksanakan kegiatan dengan hasil pencapaian adalah : 
  • § SBS (KPI 7) sudah 45,77% dengan target 80% sudah diatas dari pencepaian nasional 45%
  • CTPS 75,45%, dengan target 90%
  • Higiene Sanitasi sekolah 93.72%, dengan target 90%
  • Limbah rumah tangga yang memenuhi syarat 62,12%, dengan target 80%
  • Sampah yang memenuhi syarat 63,50%, dengan target 80%
  • Tempat Pengelolaan Makanan 63,31%, dengan target 65%
Pelaksanaan STBM di Propinsi Sumatera barat ini juga didukung oleh berbagai kebijakan dan komitmen antara lain:
Foto bersama Kontingen Sumbar Saat
Penutupan Pelatihan
  • Adanya komitmen bersama antara Bupati/Walikota se-Sumatera Barat (Penandatanganan bersama semua Bupati/Walikota) mensukseskan program kegiatan pamsimas 
  • Adanya surat edaran dari gubernur untuk keberlanjutan kegiatan Pamsimas
  • Adanya MOU Bupati Walikota untuk mendukung Progam Sanitasi dan komitmen Dinas Kesehatan Kab/Kota 
  • Teknologi Tepat Guna (TTG) di Salah Satu Lingkungan Padat yang tak punya akses air bersih dan jamban.
  • Meningkatkan wirausaha sanitasi, diawali dengan melakukan Pelatihan Wira Usaha Sanitasi, membentuk Asosiasi dan memberikan solusi jamban murah sehat 
  • Integrasi Program PTM, HIV, TB dan Kesehatan Lingkungan di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS).
  • Telah dilakukan deklarasi bagi lokasi Pamsimas yang sudah SBS di 15 
  • Terpilihnya Provinsi Sumbar dan 2 kabupaten/kota (bersama Jawa Timur dan NTT) untuk pembuatan Succes Story Program Pamsimas 1, yaitu:
    1. Kabupaten 50 kota, hilangkan Perut lega ikanpun senang 
    2. Kabupaten Sijunjung, hilangkan BAB di Kebun dan Plastik Asoi terbang/Ranjau darat 
  • Penghargaan Pokja AMPL Pada Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) II (bersama NTB dan NTT)
Penutupan Pelatihan

Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen PP dan PL drh. Wilfried H. Purba, MM, M.Kes, berkesempatan untuk menutup pelatihan ini. Didahului dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Penyampaian kesan dan pesan oleh peserta dan diakhiri dengan foto bersama, bapak direktur PL menyampaikan bahwa Terkait belum tercapainya target Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) PAMSIMAS komponen kesehatan serta pengolahan limbah, sampah dan makanan rumah tangga ini menjadi pemicu diperlukannya strategi pelaksanaan yang lebih konkret dan operasional sehingga dapat terumuskan pola peran pendampingan dan pengendalian yang terukur dan sistematis melalui integrasi kolaboratif komponen sanitasi total, maka dengan ini disiapkan petugas sanitarian dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan wirausaha sanitasi bagi fasilitator STBM dapat meningkatkan pencapaian target.

Diharapkan dengan pelatihan wirausaha ini dapat lebih mempercepat pencapaian Progress Kinerja Pencapaian Indikator (KPI) Pamsimas Bidang Kesehatan di wilayah Propinsi masing-masing peserta. masing-masing peserta dapat menjadi pendamping wira usaha sanitasi bahkan menjadi wirausaha sanitasi. Selamat kepada para peserta dan selamat kembali ke tempat masing-masing, demikian drh. Wilfried H. Purba, MM, M.Kes sebelum menutup pelatihan secara resmi.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)





Rabu, 04 Februari 2015

Pelaksanaan Imunisasi Difteri di Kecamatan Padang Selatan

Padang, 4 Februari 2015


Guna memutus rantai penularan dan mencegah semakin luasnya kasus Difteri di Kota Padang, Dinas Kesehatan Kota Padang melaksanakan program Outbreak Response Immunization (ORI) di Kota Padang yang telah dimulai sejak tanggal 30 Januari 2015 ini. (Pencanangan ORI Difteri Kota Padang)


Hal ini disampaikan oleh Walikota Padang Mahyeldi, saat memantau pelaksanaan ORI di Kelurahan Seberang Padang Selatan, Kecamatan Padang Selatan, pada hari Rabu, 4 Februari 2015. Kegiatan imunisasi ini dilakukan menyikapi KLB Difteri yang terjadi di Kota Padang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Dr. Hj. Rosnini Savitri, M.Kes menyampaikan bahwa ORI ialah imunisasi yang dilakukan dalam penanganan KLB (Kejadian Luar Biasa). Dilaksanakan pada daerah yang terdapat kasus PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi), dalam hal ini adalah Difteri. Sasarannya adalah anak usia 2 bulan hingga 15 tahun. Melakukan ORI terbatas di wilayah sekitar KLB, sesaat setelah KLB tersebut terjadi (dalam hal ini adanya status KLB Difteri di Kota Padang).

Untuk itu, ORI yang dimulai digelar mulai 30 Januari 2015 pada Balita di Kota Padang sudah tercatat pemberian imunisasi difteri sebesar 10.96% yaitu sebanyak 23.583 dari 205 270 sasaran. Kadinkes berharap meski melebihi target batas waktu yang ditentukan, tetapi sebaiknya pemberian imunisasi ini terus dikejar paling tidak mencapai hingga 90% yang memang bertujuan untuk memutus rantai penularan Difteri.

Dari 8 (delapan) kasus yang ditemukan sampai dengan tanggal 4 Februari 2015 ini, sebagian besar tidak diimunisasi, akan tetapi seseorang yang telah di imunisasi pun terkadang masih bisa tertular. Hal ini disebabkan orang lain sebagai sumber penularan yang masih bebas kesana kemari dan carrier yang lolos berpeluang menjadi sumber penularan.

”Orang lain bisa terkena Difteri meskipun ia pernah di imunisasi, jadi yang menanggung beban bukan saja bagi si penular, tapi si tertular juga akan menanggung risikonya,” ujar Dr. Hj. Rosnini Savitri, M.Kes.

Pastikan anak anda mendapatkan Imunisasi

Pada kesempatan ini yang juga dihadiri oleh Direktur Penyehatan Lingkungan Ditjen PP dan PL, Drh. Wilfried H. Purba, MM, M.Kes. mengatakan bahwa pemerintah pusat siap memenuhi jumlah vaksin yang dibutuhkan untuk kegiatan ORI ini. Vaksinnya sudah kami kirim dan sudah sampai di Provinsi Sumatera Barat.

Pencegahan penyakit itu harus mengikuti Standard Operating Procedure (SOP) atau prosedur operasi standar yaitu dengan cara imunisasi, hidup bersih dan sehat, menjaga kebersihan lingkungan dan makan makanan bergizi, kata Alfred Hasiholan usai pencanangan penimbangan massal, bulan vitamin A, imunisasi massal penyakit difteri di posyandu dan sekolah sekolah di Padang.

Pemberian imunisasi harus diberikan sejak anak usia 2 bulan hingga 15 tahun. Upaya itu merupakan salah satu cara yang efektif untuk memutus rantai penularan difteri.

Begitu saya menerima laporan dari kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, maka saya langsung menyatakan kejadian ini adalah Kejadian Luar Biasa, sesuai petunjuk dari Kementerian Kesehatan dan memerintahkan untuk melakukan ORI ini, dipadukan dengan kegiatan penimbangan massal dan Bulan Vitamin A Kota Padang. Kita tidak ingin ada korban jiwa lagi dari anak-anak yang kita cintai karena penyakit difteri ini. Penyakit ini sangat ganas. Kuman ini menyerang saluran pernafasan atas, membentuk membrane putih sehingga anak-anak tidak bias bernafas dan kuman itu bias menghasilkan racun yang bias masuk ke jantung dan mengakibatkan kematian anak-anak kita. Makanya kita tidak menunda lagi, kita lakukan ORI ini segera untuk membentuk tentara tentara yang bias memberi kekebalan pada anak kita, lanjut Mahyeldi dengan sangat rinci sekali.

Kejadian ini tidak akan terjadi jika anak-anak kita sejak awal mendapatkan imunisasi lengkap, kekebalan Difteri ini diberikan pertama kali pada imunisasi saat anak kita masih balita yaitu usia 2, 3 dan 4 bulan, selanjutnya diberikan di bangku sekolah, yaitu kelas 1, 2 dan 3 SD. Dan kemudian diulang pada saat anak berusia 18 bulan sampai 3 tahun. Jika itu terpenuhi maka anak akan memperoleh kekebalan, dan kekebalan yang tidak diperoleh karena efikasi vaksin akan berkurang karena sebagian besar populasi sudah terimunisasi, untuk itu pastikan saat ini anak anda dapatkan imunisasi. Jangan takut dengan isu-isu negative tentang vaksin, pemerintah pasti akan mengupayakan yang terbaik untuk anak-anaknya dan sudah juga ada fatwa MUI untuk vaksin-vaksin yang dinyatakan mengandung unsur haram. Tidak semua vaksin mengandung unsur haram, demikian Walikota Padang menyampaikan.

Saya berencana menggabungkan pencatatan imunisasi anak ini di catatan pendudukan, untuk itu Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil saya libatkan, bagaimana nanti kedepan, di catatan sipil kita dapat memantau keluarga mana saja yang belum diimunisasi anaknya, untuk ditindak lanjuti oleh dinas Kesehatan dan Puskesmas, kata Mahyeldi sebelum mulai memberikan Kapsul Vitamin A pada salah seorang bayi yang hadir.

Ny. Harneli Bahar Mahyeldi menyatakan bahwa PKK siap membackup dan membantu ORI ini, kader-kader kami dilapangan siap kapanpun juga untuk mensukseskan kegiatan ini.

Mengapa Difteri?

Imunisasi difteri diberikan pada saat anak berusia 2, 3 dan 4 bulan melalui vaksin DPT, dilanjutkan pada anak berusia 18-24 bulan diberikan 1 kali booster, di kelas 1SD melalui vaksin DT dan dikelas 2 dan 3 SD melalui vaksin Td.

Anak yang mendapatkan imunisasi lengkap akan mendapatkan kekebalan terhadap difteri. Cakupan (2014) DPTHB1 96,6%% dan DPTHB3 90,3%. Dari data tersebut terdapat drop out DPTHB dikisaran 6,5%, lebih tinggi dari angka toleransi nasional sebesar 0-5%, Cakupan BIAS (2014) : DT: 88,9%; Td kelas 2 & 3: 89,66%.

Kinerja pengelolaan program yang kurang baik tersebut antara lain cakupan rendah dan mutu vaksin yang juga rendah yang disebabkan penyimpanan vaksin yang kurang baik dan yang diberikan pada anak tidak lengkap akan mempengaruhi kekebalan pada anak.

 Selain itu, lanjutnya, berdasarkan coverage survey pada tahun 2013 yang dilakukan oleh FKM Universitas Indonesia di Kota Padang, menunjukkan bahwa Crude Coverage (kartu dan riwayat) untuk imunisasi lengkap hanya mencapai 53,6% dan Valid Coverage (kartu dan riwayat) untuk imunisasi lengkap hanya mencapai 7,0% Hal yang menyebabkan ada sebagian masyarakat menolak adanya imunisasi dengan alasannya yakni kurangnya informasi, masyarakat yang takut efek samping dari imunisasi itu sendiri sebesar 39,5%, tidak mengetahui manfaat imunisasi 14,6%, tidak tahu lokasi imunisasi 11,2% dan sebab-sebab lain sebesar 24,9% diantaranya mitos-mitos negative tentang imunisasi.


Permasalahan lain yang harus menjadi perhatian bagi petugas Puskesmas dan Posyandu yakni adanya masalah mutu rekapan hasil imunisasi. Puskesmas dan Posyandu kurang patuh terhadap SOP (Standar Operasional Prosedur) seperti kurang memperhatikan umur minimal pada pemberian imunisasi DPT-HB1 & Campak dan interval minimal dosis berikutnya. Penyebabnya, petugas yang memvaksinasi berdasarkan jadwal buka Posyandu, bukan tanggal lahir bayi. Penyimpanan vaksin yang tidak memenuhi syarat dan cenderung beku, dan yang terakhir kurangnya pengawasan dan pembinaan.

Menurut hasil survey cakupan didapatkan bahwa 73% responden puskesmas mengatakan bahwa keterlibatan kader sangat tinggi,akan tetapi hanya 55% petugas yang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi terkait pengetahuan dan pengalaman mengenai efek samping, dan petugas mengatakan bahwa memberikan intervensi gizi seperti PMT akan meningkatkan kunjungan Posyandu

Dengan adanya berbagai penjelasan diatas, diharapkan agar seluruh petugas Puskesmas khususnya di bagian imunisasi dapat memperhatikan hal-hal yang kelihatannya sepele namun berdampak besar jika mengabaikannya.



(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)



Selasa, 03 Februari 2015

Peringatan Hari Kanker Sedunia, 4 Februari 2015

KANKER…BUKAN DI LUAR KEMAMPUAN KITA

Saat ini penyakit kanker masih menjadi permasalahan yang serius di seluruh dunia, baik di negara-negara yang sudah maju, terlebih lagi pada negara-negara yang masih berkembang. Menurut data terakhir yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2004, penyakit kanker menduduki urutan pertama sebagai penyebab kematian dengan jumlah kematian mencapai 7,4 juta jiwa atau 13% dari total kematian. Dari jumlah tersebut, dua pertiga penyakit ini terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Diantara jumlah kematian tersebut kanker paru, lambung, hati, kanker kolon, dan kanker payudara menduduki urutan teratas. Jika dilihat dari jenis kelamin pada pria jenis kanker yang frekuensinya paling tinggi adalah kanker paru-paru, hati, colorectal, esofagus, dan prostat, sedangkan pada wanita kanker payudara, paru-paru, lambung, colorectal dan kanker serviks.. Berdasarkan penelitian, sebenarnya 30% dari kematian yang disebabkan oleh penyakit ini bisa dicegah dengan melakukan pengobatan dan perawatan yang tepat. Jumlah penderita kanker diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun dengan perkiraan jumlah mencapai 12 juta jiwa pada tahun 2030 WHO juga menyebutkan setiap tahun ada 6,25 juta orang baru yang yang menderita kanker

Dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah populasi yang menderita kanker sekitar 6 persen dari total penduduk. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 prevalensi kanker di Indonesia yaitu 1,4 per 1.000 penduduk. Dari riset juga diketahui bahwa kanker menduduki urutan ketujuh sebagai penyebab kematian akibat penyakit di Indonesia setelah stroke, tuberculosis, hipertensi, cidera, perinatal, dan diabetes mellitus.

Banyak dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini. Dampak pertama tentu karena jumlah kematian yang ditimbulkannya sangat tinggi. Kedua, biaya yang dikeluarkan untuk proses pengobatannya juga tidak sedikit. Berkenaan dengan obat kita ketahui bahwa lebih dari 90 dari bahan baku obat Indonesia masih harus diimpor dari negara lain, dan ini tentu saja membuat harga obat menjadi sangat mahal. Proses pengobatan kanker sendiri memakan waktu yang tidak sebentar. Biasanya terdiri dari beberapa siklus yang harus dilalui oleh pasien. Di sini akan timbul lagi masalah tentang kepatuhan pasien dalam mengikuti proses terapi.

Keberhasilan proses penyembuhan sangat ditunjang oleh :
  1. Seberapa cepat penyakit ini terdeteksi. Semakin cepat kanker terdeteksi (tahap awal) semakin tinggi tingkat keberhasilan untuk mencapai kesembuhan. Proses perkembangannya kanker dibagi dalam empat tahap/ fase. Fase I adalah fase dimana kanker masih terlokalisasi pada satu bagian tubuh, misalnya pada satu titik di payudara, paru, dan lain-lain. Pada fase II kanker sudah mulai berkembang pada bagian tubuh tersebut menjadi lebih luas. Fase III perkembangannya lebih hebat lagi. Fase II dan III proses perkembangannya masih di satu organ tubuh. Fase IV merupakan fase yang sangat ditakuti dimana kanker sudah menyebar atau dalam istilah kesehatan mengalami metastase ke organ-oragan tubuh lainnya. Pada fase terakhir ini proses kesembuhan menjadi sangat sulit. Biasanya upaya pengobatan ditujukan untuk mengurangi tingkat kesakitan saja atau meningkatkan kualitas hidup pasien. Banyak pasien yang datang ke rumah sakit sudah memasuki tahap akhir dari penyakit ini.
  2. Sejauh mana kepatuhan pasien dalam menjalani proses terapi atau pengobatan. Kepatuhan disini meliputi ketaatan untuk mengikuti jadwal terapi yang biasanya sudah ditetapkan sesuai dengan protokol pengobatan yang dipilih. Protokol pengobatan ini biasanya terdiri dari beberapa siklus misalnya lima siklus. Jarak antara satu siklus dengan siklus berikutnya juga tergantung dari protokol yang dipilih. Ada yang berjarak 1 bulan dan sebagainya. Hendaknya siklus pengobatan ini diikuti sampai tuntas jangan terputus. Sel-sel kanker adalah sel yang sangat cepat mengalami perkembangan jauh melebihi sel-sel tubuh yang normal. Jika proses pengobatannya tidak tuntas, sel-sel tersebut bisa berkembang lagi menjadi lebih banyak. 
Kanker berkembang dari satu sel tunggal yang terjadi sebagai akibat dari interaksi antara faktor genetik seseorang dengan tiga faktor eksternal yang bisa dikategorikan sebagai berikut : karsinogen fisik (radiasi ultraviolet dan proses ionisasi), karsinogen kimia (asbestos, komponen asap rokok, aflatoksin yang ada di makanan, arsen yang merupakan kontaminan air), karsinogen biologi (infeksi virus, bakteri dan parasit). Karsinogen adalah istilah yang digunakan terhadap zat atau bahan yang berpotensi menimbulkan kanker.

Menurut studi yang dilakukan oleh international cancer collaboratories, lebih dari 30 % kasus kanker yang terjadi saat ini dapat dicegah dengan memodifikasi atau menghindari faktor-faktor resikonya. Faktor-faktor resiko tersebut adalah:
  • konsumsi rokok
  • obesitas
  • kurangnya konsumsi sayuran dan buah-buahan
  • kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga
  • konsumsi alkohol
  • hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi HPV (Human Pappiloma Virus)
  • polusi udara serta asap akibat pemakaian bahan bakar padat di rumah tangga
  • dll
Selain menghindari faktor-faktor resiko tersebut di atas, langkah pencegahan lain yang bisa dilakukan adalah vaksinasi terhadap virus HPV dan hepatitis B, mengurangi pemaparan terhadap sinar matahari dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan deteksi dini terhadap kanker.

Menurut laporan World Cancer 2014 International Agency for Research on Cancer (IARC) di WHO, pada 2012 ada sekitar 14 juta kasus baru kanker terjadi. Yang paling umum adalah 13 persen kanker paru, 11,9 persen payudara, dan 9 persen tumor usus. Kanker paru-paru merupakan penyebab yang paling umum dari kematian dengan perkiraan 8,2 juta kematian. Dari angka-angka itu menunjukkan, strategi pencegahan yang harus dilakukan dengan pengobatan yang efektif dan terjangkau demi menyelamatkan kehidupan di seluruh dunia.

Menurut IARC, sekitar 70 persen kematian kanker terjadi di Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Selatan. Komitmen kepada pencegahan dan deteksi dini sangat dibutuhkan untuk perawatan yang lebih baik dan mengatasi kenaikan kanker yang mengkhawatirkan, Badan itu menyerukan kampanye skrining serta vaksinasi untuk membantu menghentikan kanker yang berhubungan dengan infeksi seperti tumor serviks dan hati, di samping mendorong perubahan gaya hidup seperti berhenti merokok dan banyak berolahraga.

Untuk capaian deteksi dini kanker rahim dan payudara di seluruh provinsi di Indonesia tahun 2007-2013 menurut data Subdit kanker 20 januari 2014, telah dilakukan sebanyak 36.761.000 perempuan usia 30 sampai 50 tahun. Target deteksi dini ini sebenarnya belum tercapai karena untuk deteksi dini saja baru ada 644.951 atau 1,75 persen wanita (targetnya 80 persen). 

Di Sumatera Barat sendiri prevalensi kanker berada di atas prevalensi nasional yaitu 1,7 per 1000 penduduk (nasional 1,4 per 1000 penduduk). Sebagai upaya pemenuhan rencana pengendalian kanker di Sumatera Barat sesuai arahan Kementerian Kesehatan RI adalah meliputi hal-hal berikut ini:
  1. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat sehingga dapat terhindar dari faktor risiko penyakit kanker melalui Posbindu PTM, yang saat ini sudah ada sebanyak 437 posbindu (meliputi 37,30 desa/kelurahan)
  2. Mendorong pelaksanaan pembangunan berwawasan kesehatan sehingga dapat mengurangi kemungkinan terkena paparan faktor risiko penyakit kanker terhadap masyarakat melalui pengembangan Kawasan Tanpa Rokok, saat ini Provinsi Sumatera Barat sudah memiliki Perda KTR dan sudah ada 4 kabupaten/kota yang mempunyai Perda KTR yaitu Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, Kota Bukittinggi dan Kota Sawahlunto, dimana Kota Padang Panjang dan Kota Payakumbuh juga menerapkan total band (total layanan iklan)
  3. Mendorong dan memfasilitasi pengembangan potensi dan peran serta masyarakat tentang penyakit kanker dan pendampingan terhadap pasien dan keluarganya
  4. Mengembangkan kegiatan deteksi dini penyakit kanker yang efektif dan efisien terutama bagi masyarakat yang berisiko. Yang sedang sangat digiatkan saat ini adalah peningkatan cakupan deteksi dini kanker leher Rahim melalui program Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan deteksi dini kanker payudara melalui program Cek payudara Sendiri (SADARI) yang dibina melalui posbindu-posbindu penyakit tidak menular. Saat ini di Provinsi Sumatera Barat, hampir disemua Puskesmas sudah memiliki petugas yang dilatih IVA melalui kerjasama dengan YKI, BPJS maupun dilatih oleh Dinas Kesehatan Provinsi sendiri.
  5. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui peningkatan sumber daya manusia dan penguatan institusi serta standarisasi pelayanan
  6. Mendorong sistem pembiayaan kesehatan bagi pelayanan kesehatan paripurna penderita kanker sehingga dapat terjangkau bagi penduduk miskin. Pengobatan kanker saat ini sudah terfasilitasi dengan baik melalui sistem Jaminan Kesehatan BPJS.
  7. Meningkatkan penyelenggaraan surveilans faktor risiko dengan mengintegrasikan dalam sistem surveilans terpadu di puskesmas maupun rumah sakit melalui sistem registri kanker.
Hari kanker sedunia berdasarkan kalender WHO dirayakan setiap tanggal 4 Februari. Dalam Hari Kanker Sedunia tahun 2015 Kementerian Kesehatan mengangkat tema “KANKER…BUKAN DI LUAR KEMAMPUAN KITA”.

Tema ini untuk membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat bahwa kanker saat ini bukanlah sesuatu yang di luar kemampuan kita. Ada hal yang dapat kita lakukan untuk dapat terhindar dan bersahabat dengan kanker yaitu:
  1. Hidup sehat untuk hindari kanker
  2. Lakukan deteksi dini
  3. Pengobatan/tatalaksana untuk semua pasien kanker
  4. Meningkatkan kualitas hidup
Hal ini didasari bahwa mengetahui betapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyakit kanker, langkah terbaik yang harus dilakukan adalah bagaimana kita dapat terhidar dari penyakit tersebut melalui hidup sehat dan melakukan deteksi dini. Dengan menghindari faktor-faktor yang bisa memicu kanker, kemungkinan terserang oleh penyakit ini bisa diperkecil. Jika sudah mengidap kanker, pengobatan dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup penderita.



(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

Penandatanganan MOU Penelitian TB MDR dengan FK Unand dan Sosialisasi Penelitian

Padang, 03 Februari 2015

Pada hari Selasa, 3 Februari 2015 bertempat di BKOM Padang telah terciptanya tonggak baru dalam penelitian dan pengembangan Program TB di Provinsi Sumatera Barat dengan ditandatanganinya MOU Penelitian TB MDR antara Universitas Andalas Padang yang diwakili oleh Dekan Fakultas Kedokteran Unand Dr. dr. Masrul, M.Sc, SpGK dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat yang langsung ditandatangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Dr. Hj. Rosnini Savitri, M.Kes.
Penelitian ini berjudul Epidemiologic and genotypic analysis of active M. tuberculosis cases in Indonesia: Understanding the acquisition and transmission of drug-resistant tuberculosis dengan DR. dr. Andani Eka Putra, MSc sebagai Principal Investigator ini akan dilaksanakan di 3 kabupaten kota di Indonesia yaitu di Kota Padang, Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman.

Peserta sosialisasi berasal dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas di 3 kabupaten kota terpilih, Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat dan juga dihadiri oleh PPO GF ATM Komponen TB, dr. H. Wihardi Triman, MQIH dan TO KNCV Sumbar, dr. H. Asdi Agus, MQIH.

Perkembangan TB dan TB MDR di Sumatera Barat

Menurut WHO, Indonesia merupakan penyumbang penderita TB terbesar nomor 4 didunia. Di Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2014, pencapaian indicator TB belum seperti yang diharapkan angka CDR mencapai 63,97% dari target > 85%, Angka konversi 73,48% dari target 80%, Success Rate 90,48%, dari target 85% Angka kesembuhan 83,68 %, dari target 85 % . Dari data ini penemuan kasus TB BTA pusitif dan kesembuahan masih rendah hal ini akan menjadi cikal bakal untuk terjadinya TB MDR.

Di Sumatera Barat Penatalaksanaan TB-MDR sudah dimulai semenjak Februari 2013, di RSAM Bukittinggi, yang telah melakukan pemeriksaan terhadap Suspek MDR sebanyak 192 suspek dan ditemukan TB-MDR sebanyak 32 orang.

Memperhatikan permasalahan dan perkembangan MDR-TB yang terjadi saat ini, maka akses universal kelayanan TB yang berkualitas untuk memutus mata rantai penyebeb TB –MDR harus dilaksanakan dengan revitalisasi DOTS dan penemuan suspek TB MDR sedini munggkin dan Penyediaan layanan MTPTRO yang berkualitas untuk pasien TB resisten Obat untuk mencegah terjadinya TB XDR.

Salah satu strategi ke dapan pengendalian TB di Indonesia adalah mendorong penelitian dan pengembangan dan pemanfaatan informasi stategik.

Untuk itu kami sangat menyambut baik atas akan dilaksanakannya penelitian TB-MDR oleh Fakultas Kedokteran Unand Padang, yang akan dilaksanakan di Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman.

Dengan adanya penelitian ini kita berharap penemuan kasus TB MDR lebih dini dan hasil penelitian nantinya kita dapat masukan untuk mengambil kebijakan dan strategi baru untuk penanganan kasus MDR. Selanjutnya saya mengharapkan agar 3 kabupaten kota yang terpilih ini dapat membantu kelancaran penelitian ini, demikian Dr. Hj. Rosnini Savitri, M.Kes mengakhiri sambutannya.

Penelitian TB MDR di Sumatera Barat

Penelitian ini merupakan kolaborasi antara Universitas Andalas dengan Harvard University, ini sesuatu yang sangat istimewa, karena Harvard ini adalah universitas yang sangat ternama di bidang public health, jadi lakukan penelitian ini dengan baik, sehingga nama baik Universitas Andalas tetap terjaga.

Saya bangga sekali dengan Dr. Andani Eka Putra, MSc selaku ketua peneliti yang berpartner/Research Colaborator dengan Prof. Megan Murray, PhD dan saya berharap jika ada masalah yang terkait dengan penelitian ini segera bicarakan dan selesaikan serta setiap tahun adakan evaluasi sejauh apa hasil yang sudah kita dapatkan. Saya bangga sekali apalagi dengan penelitian ini dapat membawa beberapa mahasiswa S2 dan S3.
Saya berharap apa yang diperoleh dari penelitian ini akan memberikan sumbangsih besar untuk Program Tuberkulosis di Sumatera Barat, di Indonesia bahkan di dunia, demikian Dr. dr. Masrul, M.Sc, SpGK mengakhiri sambutannya dan membuka pertemuan secara resmi.

Didampingi oleh Kadinkes Kota Padang dan Kota Pariaman, Kepala Dinas Kesehatan bersama Dekan FK Unand menandatangani MOU sebagai tanda dimulainya pelatihan ini.

Sosialisasi penelitian TB MDR

Setelah penandatangan MOU dilakukan dilanjutkan dengan sosialisasi yang disampaikan oleh DR. dr. Irene, MKM, Kabid PP dan Bencana, yang membidangi Program Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.
Dilanjutkan dengan penyampaian pelaksanaan penelitian oleh Dr. Andani Eka Putra, MSc selaku PI. Mengawali penyampaian ini, Dr. Andani menyampaikan susunan tim peneliti yang terdiri dari Dr. Andani Eka Putra, MSc (PI), dr. Hardisman, PhD (Adm & Fin Manager), R. Firwandri Marza, (Riset Manager), dr. Oea Khairsyaf, SpP, Prof. DR. dr. Rizanda Machmud, M.Kes, Prof. Dr. Ida Parwati, PhD, dr. Abu Tholib Aman, MSc, PhD, DR. dr. Irene, MKM, Daslina (Lab assistant), Mursyida SSi (lab assistant), Trisia Imelda, Ria Hatrina, beberapa Mahasiswa S3, Mahasiswa S2 Biomedik, Mahasiswa Kesmas dan peserta PPDS. Di pihak Harvard Medical School/Amerika Serikat terdiri dari Prof. Megan Murray, PhD, Philips Loh, MSc dan dr. Christian Suharlim.

Dasar dari penelitian ini adalah
  • Peningkatan kasus TB, MDR-TB dan HIV
  • Minimnya data MDR-TB yang akurat
  • Patogenesis belum jelas
  • Ancaman penyebaran MDR-TB
  • Pola penyebaran yang belum jelas
Adapun tujuan penelitian ini adalahTujuan
  1. Tujuan 1. Menentukan prevalensi MDR-TB diantara semua kasus TB yang mendapat pengobatan secara DOTS
    • Sub 1. Menentukan prevalensi MDR-TB pada kasus baru dan lama
    • Sub 2. Menentukan prevalensi MDR-TB dari subjek yang ‘dicurigai’ dan ‘tidak dicurigai’
    • Sub 3. Mengidentifikasi kasus TB dari subjek dengan BTA negatif dengan manifestasi klinis kearah TB
  2. Tujuan 2. Menilai resistensi yang berkaitan dengan mutasi dari isolat lokal
    • Sub 1. Mengidentifikasi novel SNP yang berkaitan dengan MDR-TB
    • Sub 2. Menilai sensitivitas dan spesifisitas MDR berbasis SNP
    • Sub 3. Menilai genotyping M. Tuberculosis isolat lokal
    • Sub 4. Menilai pola penyebaran MDR-TB berdasarkan pola genotyping
Desain penelitian ini adalah Proportional Prospective Cohort Study, dengan 2.400 orang sampel dari Kota Padang, Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman, dan data yang dikumpulkan berasal dari Kuisioner, GeneXpert, Kultur dan DST, GIS dan Whole Genom sekuensing.

(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)

Sabtu, 31 Januari 2015

Difteri

Apa itu Difteri?
Penyakit difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (tonsil, faring dan hidung) dan kadang pada selaput lendir dan kulit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Corynebacterium diphteriae. Semua golongan umur baik anak-anak maupun orang dewasa dapat tertular oleh penyakit ini. Namun anak usia kurang dari 5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun sangat beresiko tertular penyakit Difteri.

Apa Saja Gejala/Tanda-tanda Penyakit Difteri?

Pada umumnya penyakit difteri menyebabkan gejala-gejala seperti panas, sesak nafas, nyeri telan pada tenggorokan, leher bengkak (bullneck), serta adanya selaput warna putih keabu-abuan di tenggorokan yang dapat menyumbat jalan nafas. Selain itu penyakit difteri dapat menghasilkan racun yang berbahaya karena dapat menyerang otot jantung, jaringan saraf dan ginjal.

Difteri dapat menyerang bagian tubuh seperti tenggorokan, bibir, kulit, mata, hidung, tonsil faring, dan laring. Penyakit Difteri yang parah dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi bisa dipengaruhi oleh virulensi kuman, luas membra, jumlah toksin, waktu antara timbulnya penyakit dengan pemberian antitoksin. Komplikasi yang terjadi antara lain kerusakan jantung, kerusakan system saraf dan obstruksi jalan nafas.





Apakah Penyebab Penyakit Difteri?
Gambar bakteri Corynebacterium diphteriae

Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri ini adalah kuman batang gram positif, dimana kuman ini tidak membentuk spora, tahan dalam keadaan beku dan kering dan mati pada pemanasan 60ÂșC.

Akan tetapi terdapat beberapa faktor lain yang dapat mempermudah terinfeksi penyakit Difteri, yaitu:
  • Cakupan imunisasi kurang atau tidak mendapat imunisasi secara lengkap 
  • Kualitas vaksin yang tidak bagus 
  • Faktor lingkungan tidak sehat seperti sanitasi yang buruk dan rumah yang berdekatan yang mempermudah penyebaran difteri 
  • Tingkat pengetahuan ibu rendah tentang imunisasi dan gejala difteri 
  • Akses pelayanan kesehatan yang kurang 

Bagaimana Cara Penularan Difteri?

Penyakit Difteri terkenal sebagai penyakit menular yang berbahaya. Lalu bagaimana cara penularannya? Penyakit Difteri dapat menular melalui percikan ludah/batuk/bersin dari orang yang membawa bakteri (sedang menderita difteri atau seorang karier difteri) ke orang lain yang sehat. Karier difteri adalah seseorang yang sehat, tidak mengalami gejala penyakit difteri, tetapi hasil tes swab hidung menunjukkan positif adanya kuman difteri. Orang dengan karier difteri dapat disembuhkan dengan cara minum obat eritsomisin 4x1 selama 10 hari,

Bagaimana Cara Mencegah Penyakit Difteri?

Penyakit Difteri berbahaya, tetapi dapat dicegah dengan cara imunisasi dasar lengkap. Berikut adalah 3 imunisasi yang dilakukan di Indonesia:
  • Imunisasi dasar lengkap pada saat (DPT-HB-HiB 3 kali) dan booster 1 kali saat anak usia 18 – 36 bulan. 
  • Imunisasi DT pada anak SD/MI kelas 1 
  • Imunisasi TD pada anak SD/MI kelas 2 dan 3 
Di samping mendapat imunisasi lengkap untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, ada baiknya penyakit difteri kita cegah dengan melakukan:
  • Hindari untuk kontak secara langsung dengan penderita difteri. 
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan seperti cuci tangan, sanitasi yang baik, membersihkan bagian rumah dan halaman, dan lain-lain. 
  • Menjaga kondisi tubuh tetap prima agar tidak mudah terserang penyakit seperti makan makanan bergizi dan berolaharaga yang rutin 
  • Bila perlu pakailah masker kesehatan. 
  • Tidak batuk dan bersin di sembarang tempat. Etika bersin dan batuk yang benar adalah dengan menutupi menggunakan tissue, atau jika tidak ada tissue maka bisa menggunakan lengan 
Bagaimana Cara Mengobati Difteri?

Penyakit Difteri merupakan penyakit yang berbahaya yang bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu penanganan harus dilakukan dengan segera. Bila gejala-gejala difteri mulai timbul, maka segeralah pergi ke rumah sakit.

Berkonsultasilah dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang benar dan pemberian eritromisin terhadap kontak langsung.

Pemberian eritromisin dan penisilin dapat membantu menghilangkan kuman dan menghentikan pengeluaran toksin. Saat penderita mengalami sumbatan jalan nafas, jika diperlukan tenaga medis akan membuat lubang pada pipa saluran pernafasan atas agar pasien dapat bernafas.

Difteri di Kota Padang?

Bila ditemukan satu penderita yang diagnosis oleh dokter sebagai klinis difteri atau konfirmasi dipteri maka dianggap sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), dan dilaporkan segera kurang dari 24 jam ke Dinas Kesehatan secara berjenjang untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Pada tahun 2015 ini, kejadian dipteri di Kota padang (sd 31 Januari 2015), sudah ditemukan sebanyak 6 (enam) kasus. Berdasarkan domisili pasien ke lima kasus berasal dari:
  • Kasus 1, Kelurahan Parak Gadang Timur, Kec. Padang Timur
  • Kasus 2, Kelurahan Kuranji, Kec. Kuranji
  • Kasus 3, Kelurahan Olo, Kec. Padang Barat
  • Kasus 4, Kelurahan Alai Parak Kopi, Kec. Padang Utara
  • Kasus 5, Kelurahan Lubuk Minturun, Kec. Koto Tangah
  • Kasus 6, Kelurahan Lolong Belanti, Kec. Padang Utara
Berdasarkan jenis kelamin dari 6 kasus tersebut 50% nya berjenis kelamin laki-laki dan 66,67% berada pada kelompok umur > 5 tahun. Dari keenam kasus rata-rata tidak mendapat imunisasi lengkap.

Upaya tindak lanjut
  1. Penyelidikan Epidemiologi dan melaporkan W1 (format pelaporan KLB) dalam waktu < 24 jam 
  2. Penataksanaan kasus dan kontak. Kontak adalah orang yang berkontak erat dengan penderita seperti keluarga, teman sekolah, teman mengaji/les 
    • KASUS
      1. Kasus Difteri dirujuk ke RSUP DR. M. Djamil Padang 
      2. Tatalaksana pengobatan yaitu diberikan ADS, & anti biotik 
      3. Pengambilan spesimen swab tenggorokan & Hidung 
    • KONTAK
      1. Pengambilan swab hidung bagi kontak 
      2. Pemberian profilaksis (Erythromycin 50 mg/KgBB/hari) selama 7 – 10 hari 
    • LINGKUNGAN
      1. Surveilans ketat (pemantauan kasus demam) 
      2. Survei Cakupan imunisasi DPT (2-3 tahun sebelumnya), jika imunisasi DPT dan DT < 80% dilakukan ORI 
  3. Bila hasil pemeriksaan spesimen kontak positif dilakukan pemeriksaan ulangan pada 2 minggu setelah pengambilan spesimen pertama. 
  4. Rapat Koordinasi dengan Lintas Program dan Lintas Sektoral 
  5. Sosialisasi penanggulangan KLB Diphteri kepada petugas surveilans kab./kota dan PKM. 
  6. Sosialisasi penanggulangan KLB Diphteri kepada lintas program dan lintas sektor serta masyarakat 
  7. Pelaksanaan ORI (Out break Respons Immunization) se Kota Padang. Pada ORI ini akan diberikan imunisasi salah satu vaksin DPT-Hb-HiB/DT/Td untuk anak usia 0-15 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Jenis vaksin disesuaikan dengan usia anak. 
(Posted by: DR. dr. Irene, MKM)