Sabtu, 28 Januari 2012

Stop Buang Air Besar Sembarangan Edisi 1


Disaksikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Dr. Hj. Rosnini Savitri, MKes dan Sekda Agam Syafirman Aziz, SH, PPMU Program PAMSIMAS Provinsi Sumatera Barat Ir. Maihalfri,MTP, SKPD di jajaran Pemerintah Kabupaten Agam, Camat dan Wali Nagari se-kabupaten Agam, masyarakat Jorong Simpang Nagari Batagak, Kecamatan Sungai Puar sebagai wakil untuk 16 lokasi yang sudah SBS di Kabupaten Agam mengikrarkan diri dengan Deklarasi SBS (Stop Buang Air Besar Sembarangan) pada hari Jumat 28 Januari 2012. 

Acara ini menunjukkan terus tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang air besar sembarangan. Mengawali acara deklarasi berlangsung disuguhkan carano diawali silat khas setempat dan tari gelombang oleh para murid SD yang gemulai.

Ediwarman ketua Badan Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMS) Jorong Simpang, sebagai wakil dari 16 jorong di Kabupaten Agam yang mengikrarkan SBS mengatakan, bahwa dengan adanya Program PAMSIMAS ini, kami telah 100% memiliki jamban keluarga dan sudah 100% juga dapat menikmati air bersih, sehingga kami dapat menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Wakil masyarakat ini memperlihatkan bahwa kegiatan ini murni dari, oleh dan untuk masyarakat. 

Sekda Agam Syafirman yang membacakan sambutan Bupati Agam, mengatakan, hingga tahun 2011 ini, kegiatan PAMSIMAS di kabupaten sudah mencapai sebanyak 50 lokasi yang tersebar pada 16 kecamatan.

Pada Acara pembukaan ada 5 pesan utama yang disampaikan oleh Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, yaitu pertama sarana yang ada harus terus dipelihara. Kedua selain dipelihara juga dikembangkan ke tempat lain di sekitar yang memerlukan, ketiga adalah Masyarakat harus selalu Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), kebiasaan hidup bersih harus selalu jadi bagian dari keseharian, keempat perihal kebiasaan Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) dan yang kelima adalah kebiasaan merokok. Dari pemerintah, kalau itu memenuhi kriteria dapat diberikan Hibah Insentif Desa (HID) atau Hibah Insentif Kabupaten (HIK).

          Pilakuik ka Balai Baru, 
          basimpang jalan ka Pampangan 
          Kok Dunsanak lai maraso malu
          Mari kito ubah perilaku
         Jan buang aie sembarangan

"Pilakut ke pasar baru, dipersimpangan jalan ke pampangan, kalau bapak ibu ada merasa malu, marilah kita ubah perilaku buang air besar sembarangan," demikian putra Minang tersebut berpantun mengakhiri sambutannya.

Pada acara ini juga dilakukan penyerahan piagam deklarasi pada 16 kepala jorong SBS oleh bapak Dirjen didampingi SekDa Kabupaten Agam dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Juga disampaikan kemajuan kegiatan oleh Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPSPAMS) 

Pada acara ini juga diperagakan kegiatan CTPS oleh murid SD setempat dan deklarasi dan penandatanganan piagam deklarasi oleh Pak Dirjen.

Bapak Dirjen juga sempat melihat rumah warga yang sarana airnya disediakan pemerintah melalui proyek PAMSIMAS (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat) yang dikelola oleh BPPSPAM dan WC nya dibangun sendiri oleh warga. Saat beliau mencuci tangan terlihat debet air yang cukup besar dihasilkan oleh keran air tersebut.

Kok dulu limo ratuih sakubik, kini lah naik jadi saribu. Paliang banyak limo baleh ribu, lah pueh mamakai aia, kami tatolong dek PAMSIMAS ko, demikian pengakuan seorang warga kepada beliau. 

Apa dan mengapa SBS dan Pamsimas, akan kami bahas pada edisi 2

(DR. dr. Irene, MKM)

Diabetes dan Retinophaty

Kelompok Seminat Retina dari 12 RS Pendidikan dan 15 Cabang Perdami, pada hari Jum'at 27 Januari 2012 melaksanakan Workshop Indonesia Epidemiology Diabetic Retinopathy Study (InaEDRS), yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) di Hotel The Hills Bukittinggi.

Indonesia berhadapan dengan "triple burden" karena penyakit menular belum teratasi, sementara penyakit tidak menular cenderung meningkat dan ada pula penyakit "baru" seperti flu burung. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE saat menyampaikan presentasi dan membuka workshop tersebut.

Di Indonesia, kasus PTM yang menjadi perhatian dan pengendalian pada dewasa ini terdiri dari kasus hipertensi, penyakit jantung, DM type 2, PPOK, kanker leher rahim, asthma, cedera akibat kecelakaan lalu lintas. Bila merujuk pada bagan referensi WHO tahun 2010, terlihat jelas bahwa persentase kematian akibat PTM dan cedera di dunia menempati proporsi yang besar dibandingkan dengan penyakit menular. Trend kejadian penyakit tidak menular berdasarkan grafik survey rumah tangga dan riset kesehatan dasar menunjukan bahwa kasus PTM memperlihatkan trend yang cenderung meningkat dalam dua dasawarsa ini, demikian pula dengan kasus cedera yang belum menujukan penurunan secara signifikan.

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) Utama di dunia dan di Indonesia. World Health Organization (WHO) Melaporkan bahwa Indonesia berada di urutan keempat
negara yang jumlah penyandang DM terbanyak dari 5 Negara dengan populasi terbanyak di dunia. Jumlah ini diproyeksikan akan mencapai 21,3 juta jiwa pada tahun 2030 dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 sehingga tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif prevalensi tersebut akan terus meningkat. 

Strategi Utama Pengendalian DM dilakukan dengan ; surveilans faktor risiko dan registri penyakit, promosi kesehatan, manajemen upaya pelayanan kesehatan. Surveilans ini dilakukan untuk mendapatkan informasi besaran masalah faktor risiko DM dan kasus, jangkauan pelayanan dan tingkat fatalitas penyakit DM saat itu. 

Dalam melaksanakan upaya pengendalian DM diperlukan dukungan kebijakan yang diperoleh melalui advokasi dan koordinasi kebijakan dilakukan setiap tingkatan pemerintahan. Di Tingkat desa misalnya, program Posbindu PTM mempercepat pencapaian target desa siaga, peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Jeajring kerja untuk membangun komitmen dari berbagai stakeholders terkait.

Setiap individu dalam masyarakat harus mampu berpartisipasi dan trampil dalam upaya pengendalian PTM. Peningkatan kemampuan masyarakat untuk bergaya hidup sehat harus didukung oleh kemampuan petugas kesehatan dalam aspek teknis dan manajemen penanggulangan DM. Masyarakat dan petugas kesehatan memerlukan lingkungan kondusif berupa prasarana dan sarana yang memungkinkan mereka untuk dapat menjalankan upaya ini secara efektif. 

Penyakit DM cenderung meningkat, kronisitas dan kecacatannya menimbulkan kerugian ekonomi bagi penderita, masyarakat dan negara. Salah satu komplikasi DM adalah gangguan di mata seperti retinopati. 

Masalah utama DM adalah pengetahuan, komitmen, data dan informasi. Saat ini pengendalian DM telah dikembangkan dan menjadi bagian integral pembangunan kesehatan. Pengendalian faktor risiko merupakan upaya yang penting, selain deteksi dini dan penatalaksanaan kasus 

Kerjasama berbagai pihak seperti pemerintah, profesi, perguruan tinggi dan swasta sangat menentukan keberhasilan PPTM, tentu termasuk penanggulangan DM," tegas Tjandra.

Dalam kesempatan itu, Utusan Khusus Presiden untuk MDG Prof. Nila Moeloek juga menyampaikan presentasi pada acara pembukaan dengan memaparkan bahwa Penyakit Tak Menular juga sebagai hambatan Pencapaian Millennium Development Goals.

Penanggulangan PTM harus merupakan pendekatan intersektoral, melibatkan berbagai kementerian atau lembaga sebagai pemangku kepentingan di luar sektor kesehatan. Perangkat peraturan dan kebijakan yang bermuara pada upaya mendorong pencegahan dan pengendalian PTM merupakan komponen vital dalam penanggulangan PTM. Institusionalisasi kebijakan dan program pencegahan serta pengendalian PTM ke dalam agenda pembangunan yang lebih luas dapat jadi langkah strategis yang dapat ditempuh untuk memerangi PTM secara komprehensif. Pendekatan determinan sosial kesehatan akan menjadi landasan konseptual. 

Tugas Seminat Retina adalah dal am Prevention-diagnostic and treatment guideline to improve patient care, demikian pesan beliau.

(DR. dr. Irene, MKM)

Rabu, 25 Januari 2012

Demam Berdarah ... Again and Again

Suatu hari disaat saya lagi menunggu pembukaan acara Pertemuan Tuberkulosis di Best Western Solo, saya bertemu dengan Dr. Iwan Mulyono, MPH (seseorang yang telah menginspirasi saya untuk membuat Blog ini.... Thanks Bapak).

Jumantik vs Juminten

Kami mulai bercerita ngalor ngidul (untung ga ampe ngiler ^_^), sampai akhirnya beliau bercerita bahwa pada suatu hari disaat beliau masih menjabat sebagai Kepala Dinas Jawa Timur, seorang Jumantik mendatangi rumah beliau untuk memeriksa jentik. Juminten di rumah beliau marah-marah, "Ini rumah kepala dinas, ga ada jentik tau". Jumantiknya berkata bahwa dia ga akan memeriksa kamar mandinya pak Kepala Dinas, tetapi akan memeriksa kamar mandi kamu. Lha ternyata emang bener, ada jentiknya...

Cerita beliau mengingatkan saya bahwa suatu saat rumah saya kedatangan seorang Jumantik, Juminten saya dengan pandangan curiga memandang dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Saya sengaja hanya mengamati saja kejadian tersebut. Dengan tegasnya Juminten saya berkata, "Tidak bisa masuk ke rumah ini, karena Ibu sedang tak ada". Setelah itu dengan bangganya di berkata kepada saya, "Bu, tadi ada orang datang, ngaku-ngakunya sih Jumantik, tapi mukanya kayak Perampok bu, jadi sudah saya usir". Saya jadi tersenyum sendiri mengingat itu....

Demam Pelana Kuda

Penyakit yang bisa merenggut nyawa adalah penyakit yang benar-benar berbasis lingkungan dan perilaku. Jika kita lihat, angka kematian terhadap penyakit ini terus menurun dari tahun ke tahun, hal ini membuktikan bahwa sektor kesehatan sudah berupaya sangat optimal untuk menangani kasus. Kenapa masih ada yang meninggal, biasanya disebabkan karena terlambat datang ke pelayanan kesehatan.

Tanda dan Gejala Penyakit DBD adalah demam dengan tanda-tanda perdarahan. Penyakit ini didahului oleh demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung 2-7 hari. Panas dapat turun pada hari ke-3 yang kemudian naik lagi, dan pada hari ke-6 atau ke-7 panas mendadak turun. Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut: Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan konjungtiva, Epistaksis, Pendarahan gusi, Hematemesis, Melena, dan Hematuri.
Kebiasaan masyarakat jika demam adalah mengobati diri sendiri, beli obat diwarung atau ke mbah dukun, pada hari ke-3 demam akan hilang pada pasien ini, mereka berpikir bahwa mereka telah sembuh dan sering datang ke sarana layanan kesehatan setelah kondisi parah bahkan syok, akan tetapi sarana layanan kesehatan sampai hari ini masih bisa mempertahankan dan angka kematiantak lebih dari 1%.

All Things About DBD

DBD adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat & penyebarannya bertambah luas. DBD sendiri sangat erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk dan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di Indonesia. 

Menemukan kasus DBD secara dini bukanlah hal yang mudah, karena pada awal perjalanan penyakit gejala dan tandanya tidak spesifik, sehingga sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya. Penegakkan diagnosis DBD (secara klinis) sesuai dengan kriteria WHO, sekurang-kurangnya memerlukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan trombosit dan hematokrit secara berkala. Sedangkan untuk penegakkan diagnosis laboratoris DBD diperlukan pemeriksaan serologis [uji HI (haemaglutination inhibition test)] atau ELISA (IgM/IgG) yang pada saat ini telah tersedia dalam bentuk dengue rapid test (misalnya dengue rapid strip test), PCR (polymerase chain reaction) atau isolasi virus.
Obat untuk membasmi virus dan vaksin mencegah DBD hingga saat ini belum tersedia. Pengobatan terhadap penderita DBD hanya bersifat simptomatis dan suportif. Penatalaksanaan penderita DBD berdasarkan perubahan utama yang terjadi pada penderita, yaitu adanya kerusakan sistem vaskuler dengan akibat meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah. Keadaan ini menyebabkan terjadinya kebocoran plasma dengan berbagai akibatnya [renjatan/syok, anoksia, asidosis, DIC (disseminated intravascular coagulation)] dll. Dengan demikian pengobatan mencakup: pemberian cairan yang memadai, perbaikan perubahan asam-basa yang terjadi dan mengatasi komplikasi.
Tanda-tanda DBD:
  1. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang ditandai dengan:
    • demam tinggi mendadak, tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus-menerus selama 2-7 hari.
    • Manifestasi perdarahan (petekie, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis, ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri) termasuk uji Tourniquet (Rumple Leede) positif; 
    • Trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/μl); 
    • Hemokonsentrasi (pe-ningkatan hematokrit ≥ 20%); dan 
    • Disertai dengan atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali). 
  2. DBD pada umumnya menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi pada kelompok umur dewasa. 
  3. Penyebab DBD adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4), termasuk dalam group B Arthropod Borne Virus (Arbovirus). 
  4. Masa inkubasi DBD biasanya berkisar antara 4-7 hari. 
  5. Penularan DBD umumnya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti meskipun dapat juga ditularkan oleh Aedes albopictus yang biasanya hidup di kebun-kebun. Nyamuk penular DBD ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. 
Kito Bunuah Rangik Damam Badarah Atau Kito Dibunuahnyo


Itu adalah slogan dari kegiatan COMBI (Communication For Behavioral Impact) yang telah dilaksanakan di Provinsi Sumatera Barat 2 tahun lalu. Kegiatan ini adalah suatu upaya untuk pengerakan masyarakat, melalui proses pemberdayaan, sesuai dengan sosial budaya masyarakat, suatu kegiatan Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat sehingga masyarakat mampu melakukan pencegahan DBD dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mengubur) Plus Membersihkan Lingkungan.

Dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat, disusun media penyuluhan dalam bahasa setempat, yang dibuat bersama-sama dengan masyarakat. Kegiatan ini didahului dengan suatu survei yang dilakukan untuk melihat kebutuhan masyarakat.

Tempat perkembang-biakan utama nyamuk penular DBD adalah tempat-tempat penampungan air (TPA) berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana di dalam atau sekitar rumah atau tempat-tempat umum, tidak melebihi jarak 500 meter dari rumah. 

Jenis tempat perkembang-biakan adalah :
  • TPA untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember. 
  • TPA bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minum burung, vas bunga, perangkap semut dan barang-barang bekas (ban, kaleng, botol, plastik dan lain-lain). 
  • TPA alamiah seperti: lobang pohon, lobang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu. 
Keistimewaan nyamuk ini adalah tidak dapat berkembang biak di genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah. 

Yang menggigit adalah nyamuk betina, biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan 2 puncak aktifitas antara pukul 09.00-10.00 dan 16.00-17.00 WIB. Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus gonotropik, untuk memenuhi lambungnya dengan darah, sehingga sangat efektif sebagai penular penyakit. 

Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap (beristirahat) di dalam atau kadang-kadang di luar rumah berdekatan dengan TPA. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab, disana nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan meletakan telurnya di dinding TPA, sedikit di atas permukaan air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu ±2 hari setelah telur terendam air. Setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur itu di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu -2ºC sampai 42ºC, Bila tempat-tempat tersebut kemudian tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Lalu, tanggung jawab siapa??


Kematian telah menurun dari tahun ketahun. Tapi kemudian, apakah petugas kesehatan bisa membuat orang tidak digigit nyamuk sehingga tak sakit?

Dapat diilustrasikan jika seorang ibu pulang dari pasar dan kehausan, ibu tersebut membeli 1 gelas aqua, selesai minum gelas aqua dibuang begitu saja, hujan datang gelas berisi air dan nyamuk meletakan telur disana, Telur yang diletakan biasanya berkisar 100 butir dan 2 hari kemudian telur tersebut telah menetas menjadi nyamuk. Nyamuk itu tidak akan terbang jauh, hanya berkisar 500 meter. Jadi yang akan digigit adalah orang-orang disekitar tempat tersebut.

Lalu siapa yang bertanggung jawab. Petugas kesehatan?? Atau Kepala Dinas Kesehatan?? Tentu tidak. Yang akan bertanggung jawab adalah masyarakat sendiri. jaga kebersihan lingkungan melalui 3M Plus, Masyarakat harus melakukan kegiatan pemutusan rantai perkembang biakan nyamuk dengan cara membersihkan lingkungan di sekitar perumahan. Terutama ditujukan terhadap tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk seperti kontainer yang ada di dalam rumah seperti bak mandi, wc, bejana tempat penampungan air, vas bunga dan sebagainya dan kontainer yang ada di luar rumah dengan cara mengubur benda-benda yang bisa menampung air sehingga bisa digunakan oleh nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur seperti ban bekas, kaleng bekas talang air dan sebagainya. Kegiatan ini lebih dikenal dengan istilah 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur). Kegiatan ini akan lebih efektif bila dilakukan secara massal, berupa gerakan di tengah-tengah masyarakat. 

Melalui kegiatan COMBI, dilakukan lima aksi terpadu, yaitu 1) Mobilisasi administrasi/humas/advokasi, 2. Mobilisasi masyarakat, 3. Advertensi, 4. Penjualan Pribadi/Komunisasi Perseorangan dan Point pada Layanan Promosi Kesehatan)

DR. dr. Irene, MKM







Jumat, 20 Januari 2012

Sosialisasi Kawasan Tanpa Rokok

Kamis, 19 Januari 2012

ROKOK… Ancaman maha Dahsyat Yang Diabaikan…


Dinas Kesehatan Provinsi melakukan pertemuan sosialisasi dan advokasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR), hadir dalam pertemuan DR. Ekowati Rahajeng, MEpid (Direktur PPTM Ditjen PP dan PL) dan DR. dr. Sonny Warrow, SKM (Kasubdit Penyakit Kronis dan Degeneratif Lainnya) dalam pertemuan ini. Peserta pertemuan yang terdiri dari lintas sektor terkait, organisasi profesi, MUI dan dinas kesehatan kabupaten kota pada umumnya setuju bahwa Kawasan Tanpa Rokok harus segera dilaksanakan di Provinsi Sumatera Barat.

Buya Gusrizal Gazahar dari MUI menegaskan bahwa, fatwa MUI adalah Rokok HARAM pada ibu hamil, anak dibawah umur dan ditempat umum, sedangkan untuk yang lainnya bukan HALAL, melainkan HARAM atau MAKRUH. Dan tegas beliau untuk di Sumatera Barat MUI menegaskan bahwa ROKOK adalah HARAM. Beliau berpesan, bahwa beliau siap mendukung sampai kemanapun berkenaan dengan rokok ini.


Seluruh peserta antusias mengikuti acara sampai selesai......

SITUASI TERAKHIR KTR DI PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2011

Sebaran Perokok Per Kabupaten/Kota (Riskesda 2007)

Data Riskesdas 2007 : 
  • Lebih dari 1,2 juta penduduk Sumatera Barat merokok 
  • Jumlah perokok si Sumatera Barat No. 5 di Indonesia. 
  • Kematian akibat rokok 427.948 orang pertahun 1172 orang per hari 
  • Kabupaten Sijunjung memiliki perokok terbanyak (31,1%) diikuti oleh Kabupaten Tanah Datar (29,4%), Kabupaten Solok (29%), Kabupaten 50 Kota (29%), Kota Pariaman (28,9&) dan Kota Payakumbuh yang paling sedikit (18,1%)
Berapa Besar Uang Yang Dibakar untuk Rokok 
Di Sumatera Barat

Di Sumatera Barat Rp. 3,5 triliun yang dibakar setiap tahunnya untuk rokok, jika kita bandingkan dengan Program Penanggulangan Kemiskinan Lainnya:

  • Biaya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2012 hanya Rp. 524.267.110.749,- 
  • BLT hanya 100.000 per keluarga, berdasarkan data statistik Sumbar 2010, masyarakat yang tercatat sebagai fakir miskin sebanyak 430.024 jiwa. 
  • Dana akan untuk penanggulangan kemiskinan, serta bantuan untuk lansia dan masyarakat cacat berat hanya Rp26,2 miliar dari kementerian Sosial RI. 
  • Sekitar 257.438 rumah tangga saran (RTS) sekitar 4.000 ton per bulan, jika diasumsikan harga berkisar 6.200 sd 6.800, berkisar 297.600.000.000 sampai 326.400.000.000 per tahun

Jumlah Perokok dan Biaya yang Dikeluarkan Untuk Rokok
82,8% perokok di Sumatera Barat MEROKOK di rumah membuat anggota keluarga lainnya jadi perokok pasif. Perokok pasif rentan jadi korban penyakit akibat rokok karena menghisap asap sampingan yang 3 kali lebih berbahaya dari yang dihisap perokok.

Tak ada batas aman terhadap asap rokok orang lain/lingkungan
Perlu 100% KTR tanpa menyediakan ruang merokok
Merokok dilakukan di luar gedung 

Situasi terkini KTR di Provinsi Sumatera Barat 2011


PERJUANGAN KITA MASIH PANJANG….
KITA HARUS BERBUAT LEBIH BANYAK LAGI

Materi lengkap dapat di download di : 

Rabu, 18 Januari 2012

Roadshow Kadinkes Provinsi Sumatera Barat dan pertemuan Monitoring dan Evaluasi Tuberkulosis

Selasa, 17 January 2011


Tim Dinas Kesehatan Provinsi, dipimpin oleh ibu Kepala Dinas Kesehatan Dr. Hj. Rosnini Savitri, MKes, bersama Kabid PP dan Bencana DR. dr. Irene, MKM, Kabid PPK Dr. Hj. Lily Gracediani, MKes, Kabid SDK Drg. Bachtaruddin, Kasi Akreditasi Syafwan, SKM, MKes, Kasi Perencanaan Dra. Yudihartati, Apt., PPO GF ATM Komponen TB Dr. Wihardi Triman, MQIH, Surveilans Officer Dinkes Sumbar, Yusmayanti, SKM, MEpid. Sekda Kabupaten Tanah Datar hadir dan membuka acara tersebut secara resmi acara tersebut.

Pada pertemuan ini dibahas masalah-masalah dalam pencapaian program kesehatan di Kabupaten Tanah Datar, beberapa indikator terutama untuk penyakit menular belum tercapai. juga indikator-indikator lainnya. untuk itu perlu percepatan dan upaya keras, yang tentu juga didukung dana.

Program Penanggulangan Tuberkulosis

Khusus untuk TB, Tanah Datar menempati urutan ke 18 dari 19 Kabupaten Kota dalam penemuan Kasus (nomor 2 terendah) yaitu 32,2% (dari target 70%). Ini disebabkan karena jumlah suspek yang diperiksa memang sangat rendah, hanya 21%. Proporsi BTA Positif diantara Suspek 15,2% menunjukkan memang penjaringan terlalu ketat disamping kemungkinan kesalahan di laboratorium (positif palsu). Sementara angka konversi sudah mencapai target 86%, tapi masih ada 3 puskesmas yang masih kecil dari 50% dan Angka Keberhasilan pengobatan mencapai 91%, artinya kalaulah pasien ditemukan maka umumnya akan sembuh. Hal jadi permasalahan disini adalah bahwa perlu perhatian di penemuan dini dan konversi

PENEMUAN DINI

Penemuan dini pasien TB menular (TB BTA positif) harus merupakan prioritas utama, dengan demikian pasien dapat diobati sebelum mereka menularkan lebih lanjut ke orang lain. Kesempatan penemuan pasien TB akan hilang kalau petugas kesehatan tidak melakukan anamnesa dengan baik dan benar serta tidak melakukan pemeriksaan dahak.

Mengidentifikasi apakah seseorang itu suspek TB Paru, maka petugas kesehatan haruslah bertanya kepada semua pasien dewasa (berumur 15 tahun atau lebih) yang mempunyai tanda dan gejala mengarah kemungkinan TB:
 a. Apakah anda batuk? b. Apakah batuk anda berdahak? c. Sudah berapa lama anda batuk?

Tanyakan juga gejala-gejala lain yang menyertai keluhan batuk tersebut untuk lebih meyakinkan bahwa kondisi tersebut mengarah kepada kemungkinan TB.
Petugas kesehatan perlu mencermati semua pengunjung Sarana Pelayanan Kesehatan, termasuk mereka yang datang tidak dengan keluhan batuk dan anggota keluarga yang mengantar mereka, sebaiknya ditanya apakah mereka batuk dan sudah berapa lama. Tugas ini dapat dilakukan oleh petugas di bagian penerimaan pasien (di bagian pendaftaran).
Perlu diperhatikan bahwa sekitar 50% dari suspek TB mungkin tidak terjaring jika petugas hanya mencurigai TB pada mereka yang datang berobat karena batuk saja.
Menentukan suspek TB ekstraparu tidaklah mudah seperti suspek TB paru. Gejalanya tergantung pada lokasi penyakitnya atau organ tubuh yang terkena. Diagnosis TB ekstraparu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium penunjang lainnya, tidak hanya sekedar pemeriksaan dahak.

Pasien anak umumnya sulit mengeluarkan dahak. Sebab itu, pemeriksaan dahak hanya dapat dilakukan bila anak tersebut mampu mengeluarkan dahak. Berdasarkan hal tersebut maka diagnosis TB pada anak mengikuti alur khusus yaitu sistem skoring yang dikeluarkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Penemuan pasien anak dapat dilakukan secara sentripetal (mencari sumber penularan) dan sentrifugal (mencari anak yang kontak erat dengan pasien TB paru BTA positif).

Diagnosis TB hanya dilakukan oleh dokter atau petugas kesehatan lain yang diberi pelimpahan kewenangan terbatas oleh pejabat terkait.

KONVERSI

Maksud dilakukannya pemeriksaan ulang dahak pada pengobatan dengan Kategori-1 dan Kategori-2 adalah:
  • Pemeriksaan pada akhir tahap awal: untuk menentukan konversi. 
Apabila telah mengalami konversi, berarti pasien telah menelan obat secara teratur dan paduan obat yang diberikan efektif.
Apabila tidak konversi berikan sisipan. 
  • Pemeriksaan pada sebulan sebelum akhir pengobatan: untuk menentukan kemungkinan ada tidaknya kuman yang sudah kebal obat terhadap paduan OAT yang diberikan.
Apabila hasilnya masih BTA positif, kemungkinan ada kuman-kuman TB kebal obat yang berkembang, sehingga pasien ini perlu diberi paduan obat yang spesifik. 
  • Pemeriksaan pada akhir pengobatan: untuk menentukan kesembuhan. Apabila hasilnya BTA negatif itu berarti kesembuhan dapat dikonfirmasi. 
Apabila pemeriksaan ulang dahak pada akhir tahap awal hasilnya masih BTA positif, hal ini mungkin diakibatkan oleh salah satu sebab di bawah ini :
  • Paling sering: pengobatan tahap awal sangat lemah pengawasannya; atau OAT ditelan tidak sesuai aturannya; atau tidak mengikuti jadual yang ditetapkan. 
  • Kadang-kadang: proses konversi apusan dahaknya berjalan lambat akibat terlalu banyak jumlah kuman TB dalam tubuh; atau karena telah terjadi kerusakan jaringan paru yang luas; atau karena adanya gangguan penyerapan OAT. 
  • Jarang: kuman sudah kebal terhadap OAT (TB MDR) sehingga tidak ada lagi manfaat pemberian OAT lini pertama. 
(DR. dr. Irene, MKM)








Minggu, 15 Januari 2012

Berita Seputar Tim Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat.

Dalam 1 jam, Tin Dinkes siap turun.....

Tim Bencana Kesehatan


WORKSHOP PERAN JURNALIS DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

Sabtu, 14 Januari 2012 

Propinsi Sumbar termasuk salah satu daerah rawan bencana di Indonesia, sementara masyarakat masih peranyak yang awam perihal bencana itu
sendiri. Untuk itu semua pihak mesti siap menghadapi situasi tersebut. Jurnalis berperan untuk memberikan pemberitaan edukatif dalam menciptakan
masyarakat yang tangguh menghadapi bencana, perlu sebuah komitmen dalam pemberitaan sehingga jika bencana
terjadi, korban di masyarakat bisa diminimalisir, demikian Staf Khusus Presiden Bidang Sosial
Bencana, Andi Arief saat menjadi keynote speaker pada workshop terkait peran jurnalis dalam penanggulangan bencana yang diadakan di Hotel Pangeran Padang, Sabtu (14/1).

UU tentang kebencanaan telah digariskan strategi penanggulangan bencana yakni mencakup prabencana, saat terjadi bencana, dan pasca bencana. Pada tahap prabencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi antara lain mitigasi,
pencegahan, pengurangan resiko bencana (PRB). "Apabila terjadi bencana, langkah penanganan darurat menjadi fokus. Serta rehabilitasi dan rekonstruksi
bagi masyarakat dan wilayah terdampak merupakan langkah
selanjutnya setelah terjadi bencana," katanya.

Selain itu, kecenderungan pemberitaan saat ini, media lebih
memfokuskan pada kejadian bencana. Asumsi yang melatarbelakangi adalah bad news is good news.
Pembicara lain pada workshop itu adalah adalah jurnalis penulis buku "Liputan Bencana", Ahmad Arief (Harian Kompas), Kepala BPBD Sumbar, Kepala Dinas Prasarana Jalan (Suprapto), Tata Ruang dan Pemukiman Sumbar, Dinas Sosial Sumbar, Dinas Kesehatan Sumbar (DR. dr. Irene, MKM). 

http://kliksumbar.com/berita-2176-dinkes-pasca-bencana-satu-jam-langsung-bergerak.html

Ahmad Arief menyampaikan apresiasi pada jurnalis di Sumatera Barat, karena kepeduliannya yang terwujud dalam Jurnalis Siaga Bencana. Akan tetapi, masih banyak dosa-dosa media diantaranya alpa mengingatkan bencana, bencana lebih banyak diberitakan setelah kejadian karena mitigasi bencana belum menjadi mainstream media, terkadang tidak puya persiapan dan nebeng, berita sesat atau menyesatkan, korban ditinggalkan, media gagal mengawal pembangunan lebih baik pasca bencana. Beliau mencoba meninjau membandingan antara peliputan Gempa dan Tsumami Sendai vs Aceh

“Jurnalis harus fokus dalam meliput korban selamat dengan berempati bukan mengeksploitasi. Gambarkan kedahsyatan bencana itu, bukan kengeriannya,” jelasnya.
Terakhir, katanya, jurnalis harus juga mengawal dan mengawal rekonstruksi pascabencana. Agar, pemberitaan tersebut tidak tenggelam begitu saja. 

Hidup di Negara cincin api membutuhkan kesiapan. Jika kita melihat sejarah, masyarakat sebetulnya sudah siap sejak dahulu, rumah adat pada umumnya dibangun dengan struktur tahan gempa…. Itu mungkin bukan suatu kebetulan. Apa yang bisa dilakukan media: sudahkan rumah kita tahan gempa, mengingatkan, menggali sejarah, mengingatkan…..
100 jurnalis Sumbar telah menghasil beberapa rekomendasi bagi pemerintah dan pemilik media.


Pertama, pemerintah diharapkan selalu memberi informasi tentang kebencanaan. Sebab, informasi adalah hak masyarakat yang disebarluaskan media.


Kedua, pemerintah juga diminta memberikan kesempatan kepada jurnalis untuk menggunakan transportasi dan alat informasi yang dibutuhkan dalam peliputan dan pemberitaan.

Sedangkan rekomendasi untuk media adalah memberikan pelatihan dalam peliputan bencana, jaminan keselamatan kerja berupa asuransi dan memberikan dana operasional yang memadai dan peralatan safety jurnalis. 

(DR. dr. Irene, MKM)

Rabu, 11 Januari 2012

WORKSHOP DENGUE

Singapura, 10 Januari 2012

Demam Berdarah masih merupakan permasalahan di Bidang Kesehatan, bahkan di negara maju sekalipun seperti Singapura. Banyak faktor yang mempengaruhi, diantaranya faktor lingkungan, perilaku dan faktor-faktor lain seperti perubahan iklim, perubahan demografi, dan lainnya.

Peningkatan curah hujan, membuat banyaknya tempat perindukan nyamuk. berbagai upaya dilakukan untuk upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) ini, di Indonesia ada gerakan 3 M Plus, demikian juga di Malaysia dan di Singapura sendiri malah menerpakan denda pada rumah yang ditemukan jentik.

Peserta dalam diskusi 
Beberapa ahli/pemerhati Demam Berdarah dari 3 negara hadir di acara Workshop Dengue tersebut, Saya (DR. dr. Irene, MKM) bersama DR. dr. Aziz Jamal, DTM&H dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Juga hadir wakil dari Makasar, Malaysia dan Singapura sendiri, yang mempresentasikan situasi di tempatnya masing-masing.. Kita bersepakat untuk melakukan sharing informasi terkait dengue melalui software United Dengue.
Provinsi Sumatera Barat belum dapat mengidentifikasi serotipe virus pada kasus demam berdarah yang ada di Sumatera Barat. Tahun ini bekerja sama dengan Bagian Mikrobiologi FK Unand, kita akan mengidentifikasi serotype virus, sebagai masukan buat kebijakan dimasa yang akan datang, sambil tetap melakukan penanggulangan vektor, tatalaksana dan meningkatkan surveilans rutin.
Foto bersama usai Workshop 
(DR. dr. Irene, MKM)



Selasa, 03 Januari 2012

Kunjungan Walikota Padang Ke Lentera Minang Kabau

Senin, 2 Januari 2012

Mengawali tahun 2012, Senin, 2 Januari 2012, Walikota Padang DR. Fauzi Bahar, MSi, mengunjungi Sekretariat Lantera Minang Kabau. Kunjungan tersebut juga dihadiri Ketua PMI Padang King Churcil, Ketua STIKES Ranah Minang Padang Dr. Efrida Azis, MSc, Kabid PP dan Bencana Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat DR. dr. Irene, MKM dan Kabid P2PL DKK Padang, dr. Devi Naswita.

Dalam kesempatan ini Walikota Padang bertemu dengan pengurus Lantera Minang Kabau, KDS dan dampingan Lantera Minangkabau. Walikota berpesan agar tidak lagi melakukan perilaku berisiko dan para dampingan diharapkandapat memiliki pekerjaan, selanjutnya hal ini akan di koordinasikan dengan Dinas Sosial. Beliau juga mengatakan bahwa hendeknya Lantera Minangkabau dapat memiliki tempat yang lebih layak agar dapat berbuat lebih banyak.

(Dokumen Pribadi : DR. dr. Irene, MKM)