Selasa, 29 November 2011

Penyusunan Rencana Kontijensi Bencana Dinas Kesehatan Sumatera Barat

Bukittinggi, 27 November 2011

Sebanyak lebih kurang 50 peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan di 12 Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat (Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan) mengikuti Pelatihan Rencana Kontigensi Bidang Kesehatan, pada tanggal 27 November sampai 1 Desember 2011 di Hotel Parai Bukittinggi, Jalan Raya Bukittinggi – Medan Km. 7 Bukittinggi.

“Selama 5 hari mulai hari Minggu, peserta akan mengikuti pelatihan, dari kegiatan ini diharapkan menghasilkan dokumen rencana kontijensi masing-masing kabupaten kota di Bidang Kesehatan yang disepakati seluruh lintas program, sehingga saat kondisi tanggap darurat dapat dipakai sebagai rencana operasional” kata Jasmarizal, SKep, MARS, kepala seksi Penanggulangan Bencana Dinas Kesehatan Sumatera Barat, saat memberi laporan pada pembukaan acara tersebut.

Rencana kontijensi di serahkan kepada masing-masing daerah. Mereka yang tahu kondisi daerah dan warganya. Masing-masing daerah akan berbeda rencana kontijensinya, tergantung potensi bencana yang ada. Secara geografis, Geologis dan Demografis wilayah Sumatera Barat memiliki potensi bencana yang beragam seperti gempa, tanah longsor, gunung api, kekeringan, banjir dan lain-lain. Dinas Kesehatan sudah menyusun kebijakan, strategi, dan Tim Penanggulangan Bencana melalui SK Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Nomor 360/10/P2B/VI/2011 tentang Tim Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Barat, demikian saya sampaikan saat membuka acara tersebut secara resmi yang dilanjutkan dengan menyampaikan materi Kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Dalam Penanggulangan Bencana.
(materi lengkap dapat di download di : http://www.scribd.com/doc/74113435)

Tim fasilitator yang sudah dilatih, akan membimbing peserta dalam penyusunan rencana kontigensi ini, Jasmarizal, Skep, MARS, Irwandi Walis, dr. Yan Rafiq, Sabrana, Bruno Marcell, dan fasilitator lainnya siap membantu peserta untuk menyusun rencana daerahnya masing-masing.

Kontinjensi adalah suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan terjadi.

Rencana Kontinjensi adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi.

Perencanaan Kontinjensi adalah suatu proses perencanaan kedepan, dalam keadaan yang tidak menentu, dimana skenario dan tujuan disepakati, tindakan teknis dan manajerial ditetapkan, dan sistem tanggapan dan pengerahan potensi disetujui bersama untuk mencegah, atau menanggulangi secara lebih baik dalam situasi darurat atau kritis.

Penekanan Rencana Kontinjensi adalah pada Kesiapsiagaan, dimana Kesiapsiagaan bencana adalah suatu proses yang mengarah pada kesiapan dan kemampuan untuk: meramal dan jika mungkin: mencegah bencana, mengurangi dampak mereka, menanggapi secara efektif, memulihkan diri dari dampaknya, dan untuk itu diperlukan suatu rencana.

Sampai jumpa…..

(DR. dr. Irene, MKM)

Minggu, 27 November 2011

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Di Pengungsian Pasca Bencana Edisi 2

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Campak

a. Pencegahan penyakit Campak pada bencana

Pada dasarnya upaya pencegahan penyakit campak adalah pemberian imunisasi pada usia yang tepat. Pada saat bencana, kerawanan terhadap penyakit ini meningkat karena:
  • Memburuknya status kesehatan, terutama status gizi anak-anak. 
  • Konsentrasi penduduk pada suatu tempat/ruang (pengungsi). 
  • Mobilitas penduduk antar wilayah meningkat (kunjungan keluarga). 
  • Cakupan imunisasi rendah yang akan meningkatkan kerawanan yang berat. 
Oleh karena itu pada saat bencana tindakan pencegahan terhadap penyakit campak ini dilakukan dengan melaksanakan imunisasi, dengan kriteria:
  • Jika cakupan imunisasi campak didesa yang mengalami bencana >80%, tidak dilaksanakan imunisasi massal (sweeping). 
  • Jika cakupan imunisasi campak di desa bencana meragukan maka dilaksanakan imunisasi tambahan massal (crash program) pada setiap anak usia kurang dari 5 tahun (6–59 bulan), tanpa memandang status imunisasi sebelumnya dengan target cakupan >95%. 
  • Bila pada daerah tersebut belum melaksanakan imunisasi campak secara rutin pada anak sekolah, imunisasi dasar juga diberikan pada kelompok usia sekolah dasar kelas 1 sampai 6.
Seringkali karena suasana pada saat dan pasca-bencana tidak memungkinkan dilakukan imunisasi massal, maka diambil langkah sebagai berikut:
  1. Pengamatan ketat terhadap munculnya penderita campak. 
  2. Jika ditemukan satu penderita campak di daerah bencana, imunisasi massal harus dilaksanakan pada kelompok pengungsi tersebut, dengan sasaran anak usia 5–59 bulan dan anak usia sekolah kelas 1 sampai 6 SD (bila belum melaksanakan BIAS campak) sampai hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan penderita positif terkena campak. Imunisasi tambahan massal yang lebih luas dilakukan sesuai dengan kriteria imunisasi tersebut. 
  3. Jika diterima laporan adanya penderita campak di luar daerah bencana, tetapi terdapat kemudahan hubungan (kemudahan penularan) dengan daerah bencana, penduduk di desa tersebut dan daerah bencana harus diimunisasi massal (sweeping) sesuai kriteria imunisasi.
b. Sistem tatalaksana penderita Campak
Berikut adalah sistem tatalaksana penderita campak.

1. Rujukan Penderita Campak dari Masyarakat – Pos Kesehatan
  • Pada saat bencana, setiap keluarga, kepala ketua kelompok pengungsi, kepala desa mendorong setiap anggota keluarganya yang menderita sakit panas untuk segera berobat ke pos kesehatan terdekat (termasuk penderita campak).
  • Petugas menetapkan diagnosis dan tatalaksana penderita campak dengan benar dan segera melaporkan ke petugas pengamatan penyakit.
2. Tatalaksana Kasus
Batasan Kasus Campak:
  • Menderita sakit panas (diraba atau diukur dengan 
termometer 39 derajat Celcius) 
  • Bercak kemerahan 
  • Dengan salah satu gejala tambahan: batuk, pilek, 
mata merah, diare. Komplikasi berat campak: Bronchopneumonia, Radang telinga tengah, Diare 
3. Langkah-Langkah Tatalaksana
Penetapan diagnosa berdasarkan batasan diagnosa dan komplikasi, yaitu :
  • Panas kurang dari 3 hari, atau panas tanpa bercak kemerahan dan tidak diketahui adanya diagnosa lain, maka:

    • Berikan: obat penurun panas (parasetamol) 

    • Anjuran: 
      • Makan dan minum yang banyak 
      • Membersihkan badan 
      • Jika timbul bercak kemerahan atau sakitnya 
semakin memberat/belum sembuh, berobat kembali ke pos kesehatan. 
  • Panas dan bercak kemerahan dengan salah satu gejala tambahan (panas 3 – 7 hari). 

    • Berikan: 
      • Penurun panas (parasetamol) 
      • Antibiotik (ampisilin, kotrimoksa-sol), lihat 
tatalaksana ISPA 
      • Vitamin A 
      • Oralit 

    • Anjuran: 
      • Makan dan banyak minum 
      • Membersihkan badan 
      • Jika timbul komplikasi: diare hebat, sesak 
napas atau radang telinga tengah (menangis, 
rewel), segera kembali ke pos kesehatan. 
      • Jika 3 hari pengobatan belum membaik, 
segera kembali ke pos kesehatan. 

c. Penyelidikan dan Penanggulangan KLB Campak

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB campak, antara lain:

1. Sumber informasi kasus campak
  • Pelaksanaan pengamatan penyakit.
 
  • Laporan petugas penanggulangan bencana.
 
  • Laporan masyarakat (kepala desa, ketua kelompok pengungsi atau anggota masyarakat lain). 
2. Kriteria KLB
Satu kasus di daerah bencana pada keadaan bencana adalah KLB (masa darurat, masa rehabilitasi).

3. Langkah-Langkah Penyelidikan
  • Penetapan diagnosa. 
  • Mencari kasus tambahan dengan pelacakan 
lapangan, informasi semua kepala desa, ketua kelompok pengungsi dan keluarga di daerah bencana. 
  • Membuat grafik penderita berdasarkan waktu kejadian kasus. 
  • Membuat pemetaan kasus. 
  • Menetapkan daerah dan kelompok yang banyak 
penderita. 
  • Menetapkan daerah atau kelompok yang terancam 
penularan, karena alasan kemudahan hubungan dan 
alasan rendahnya cakupan imunisasi. 
  • Melaksanakan upaya pencegahan dan melaksanakan sistem tatalaksana penderita campak. 

Catatan: Pada saat imunisasi massal, pisahkan antara yang sakit dan yang sehat.

4. Melaksanakan pengamatan (surveilans) ketat selama KLB berlangsung, dengan sasaran pengamatan:
  • Penderita: peningkatan kasus, wilayah penyebaran 
dan banyaknya komplikasi dan kematian. 
  • Cakupan imunisasi setelah imunisasi massal. 
  • Kecukupan obat dan sarana pendukung penanggulangan KLB. 

5. Penggerakkan kewaspadaan terhadap penderita campak dan pentingnya pencegahan:
  • Kepala Wilayah: pengarahan penggerakkan 
kewaspadaan. 
  • Menyusun sistem tatalaksana penderita campak. 
  • Dukungan upaya pencegahan (imunisasi massal).

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Di Pengungsian Pasca Bencana Edisi 1


Pentingnya Imunisasi Pasca Bencana

Sharing berita:
http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_12814.html
http://www.supportunicefindonesia.org/index.php/campaign/detil/133/id

Pola pengungsian di Indonesia sangat beragam mengikuti jenis bencana, lama pengungsian dan upaya persiapannya. Pengungsian pola sisipan yaitu pengungsi menumpang di rumah sanak keluarga. Pengungsian yang terkonsentrasi di tempat-tempat umum atau di barak-barak yang telah disiapkan. Pola lain pengungsian yaitu di tenda-tenda darurat disamping kanan kiri rumah mereka yang rusak akibat bencana.

Apapun pola pengungsian yang ada akibat bencana tetap menimbulkan masalah kesehatan. Masalah kesehatan berawal dari kurangnya air bersih yang berakibat pada buruknya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang menyebabkan perkembangan beberapa penyakit menular.

Pelayanan Kesehatan Yang Dibutuhkan Oleh Pengungsi meliputi:
  1. Pelayanan Kesehatan Dasar
  2. Pelayanan kesehatan jiwa 
  3. Pelayanan promosi kesehatan 
  4. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular 
Pelayanan Kesehatan Dasar

Pelayanan kesehatan dasar yang diperlukan pengungsi meliputi:
  • Pelayanan pengobatan 
  • Pelayanan imunisasi 
  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak 
  • Kesehatan Ibu dan Anak (pelayanan kehamilan, persalinan, nifas dan pasca-keguguran). 
  • Keluarga berencana (KB) 
  • Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDS 
  • Kesehatan reproduksi remaja 
 
  • Pelayanan gizi 
 
  • Pemberantasan penyakit menular dan pengendalian vektor
 
Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian dan memerlukan tindakan pencegahan karena berpotensi menjadi KLB antara lain: campak, diare, cacar, malaria, varicella, ISPA, tetanus. 

Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida, serta pengawasan makanan dan minuman. 

Pada pelaksanaan kegiatan surveilans bila menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan kepada Puskesmas/Pos Yankes di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian.

Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

Vaksinasi, Sebagai prioritas pada situasi pengungsian, bagi semua anak usia 6 bulan – 15 tahun menerima vaksin campak dan vitamin A dengan dosis yang tepat.

Masalah umum kesehatan di pengungsian, Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian memerlukan tindakan pencegahan. Contoh penyakit tersebut antara lain, diare, cacar, penyakit pernafasan, malaria, meningitis, tuberkulosa, tifoid, cacingan, scabies, xeropthal-mia, anemia, tetanus, hepatitis, IMS/HIV-AIDS

Manajemen kasus, Semua anak yang terkena penyakit menular selayaknya dirawat agar terhindar dari risiko penularan termasuk kematian.

Surveilans, Dilakukan terhadap beberapa penyakit menular dan bila menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk LSM kemanusiaan di pengungsian, harus melaporkan kepada Puskesmas dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian

Pada posting berikutnya akan diulas mengenai Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Campak Pada Bencana......
http://irenesusilo.blogspot.com/2012/02/pencegahan-dan-penanggulangan-penyakit.html

(DR. dr. Irene, MKM)

Bencana Gunung Merapi

ANALISIS SITUASI BENCANA GUNUNG MARAPI
TIM SIAGA BENCANA DINAS KESEHATAN PROVINSI SUMATERA BARAT


1. PENDAHULUAN

Gunung Marapi terletak pada posisi geografi 00 22’ 47,72” LS dan 1000 28’ 16,71” BT, di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar dengan ketinggian 2891,3 m di atas permukaan laut. Gunung Marapi merupakan gunung api tipe A yang teraktif di Pulau Sumatera, termasuk dalam rangkaian pegunungan Bukit Barisan pada jalur Barat Laut – Tenggara, dan terdapat banyak lubang kawah disekitar puncaknya berupa lapangan solfatara dan fumarola dengan nama-nama kawah tersebut adalah: Kaldera Bancah (A), Kapundan Tuo (B), Kabun Bungo (C), Kapundan Bongso (D), Kawah Verbeek atau Kapundan Tengah (D4). Semuanya merupakan pusat erupsi dengan lebar lubang antara 175 – 600 m dan panjang 1200 m.
Kegiatannya sangat aktif, sering terjadi letusan-letusan bertipe strombolian, dengan tinggi letusan mencapai 600 m dari bibir kawah. Titik letusannya kadang berpindah mengikuti kelurusan timur – barat daya sepanjang kawah tuo dan kawah bongso. Periode letusannya berlangsung hanya beberapa hari, minggu atau bulan, dengan masa istirahat antara 1 tahun hingga 20 tahun. Bukaan kawah G.Marapi agak mengarah ke sebelah selatan dan barat laut, namun secara umum tampak seperti kerucut terpancung. Kawasan rawan bencana III yang berpotensi dilanda oleh bahaya aliran massa adalah berjarak sekitar 5 km dari puncak, daerah tersebut termasuk pada Peta Daerah Bahaya.


2. ANALISIS SITUASI

Gunung Marapi diklasifikasikan sebagai gunung api yang giat dan sering meletus. Peta Kawasan Rawan Bencana G.Marapi disusun berdasarkan geomorfologi, geologi, sejarah kegiatan, distribusi produk erupsi terdahulu, penelitian dan studi lapangan. Jenis potensi bahaya G.Marapi yang dapat mengancam keselamatan manusia dan harta benda, terdiri atas awan panas, hujan abu lebat, lontaran batu (pijar) dan lahar, sedangkan lava jarang mencapai lereng bawah yang berpenduduk, jadi tidak membahayakan.

Peta kawasan rawan bencana gunung api adalah peta petunjuk tingkat kerawanan bencana suatu daerah apabila terjadi letusan/kegiatan gunung api. Peta ini menjelaskan jenis dan sifat bahaya gunung api, daerah rawan bencana, arah/jalur penelamatan diri, lokasi pengungsian dan Pos Penanggulangan Bencana. Peta Kawasan Rawan Bencana G.Marapi dibagi dalam tiga tingkatan dari rendah ke tinggi berturut-turut yaitu : Kawasan Rawan Bencana I, II, III.

A. Kawasan Rawan Bencana I

Kawasan Rawan Bencana I adalah kawasan yang berpotensi terlanda lahar/banjir. Selama letusan membesar kawasan ini berpotensi tertimpa material jatuhan barupa hujan abu lebat dan lontaran batu pijar. Kawasan ini dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran lahar/banjir.
Kawasan ini terletak di sepanjang sungai/di dekat lembah sungai atau di bagian hilir sungai yang berhulu di daerah puncak. Daerah yang perlu waspada terhadap lahar umumnya terletak di dekat lembah atau bagian hilir sungai, sedangkan perluasannya sering terjadi terutama pada belokan-belokan sungai dengan tebing rendah. Sungai-sungai yang berpotensi terhadap lahar/banjir terutama di sungai-sungai di lereng Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan dan Barat Daya berturut-turut adalah Batang Air Rimbo Piatu (BA Katik), Batang Air Bonjol (BA Lasi), Batang Air Gadang, Batang Air Sitapu, Batang Air Sereh Silintak dan Batang Air Jabur, Batang Air Anau, Batang Air Mandailiang, Batang Air Bangkahan, Batang Air Sigarunggung, Batang Air Sungai Jambu, Batang Air Sabu, Batang Gadis dan Sungai Talang.

b. Kawasan rawan bencana terhadap jatuhan berupa hujan abu tanpa memperhatikan arah tiupan angin dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu (pijar).
Daerah yang berpotensi terlanda hujan abu lebat dan kemungkinan adanya batu (pijar) bila terjadi letusan besar adalah meliputi radius 7 km dari pusat erupsi (kawah). Bila terjadi letusan besar mungkin dapat menjadi perluasan awan panas yang meliputi daerah rendah terutama sebelah barat dan barat daya, dikarenakan morfologi agak terbuka kearah tersebut. Luas daerah kawasan rawan bencana I diperkirakan seluas 211,9 km2.

Pada Kawasan Rawan Bencana I, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan jika terjadi erupsi/kegiatan gunung api dan atau hujan abu lebat, dengan memperhatikan perkembangan kegiatan gunung api yang dinyatakan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Informasi ini sangat penting bagi Pemerintah Daerah untuk menentukan apakah penduduk harus mengungssi atau masih dapat tinggal di tempat.

B. Kawasan Rawan Bencana II
Kawasan Rawan Bencana II adalah kawasan yang berpotensi terlanda awan panas, mungkin aliran lava, lontaran batu, guguran, hujan abu lebat, umumnya menempati lereng dan kaki gunung api. Kawasan ini dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Kawasan rawan bencana terhadap aliran massa berupa awan panas, aliran lava, guguran batu (pijar), meliputi lembah-lembah sungai yang berhulu di sekitar puncak dan dapat mencapai radius 10 km dari pusat erupsi. Daerah tersebut yang diperkirakan, untuk bagian utara pada lembah sungai hingga ke Sungai Puar dan lembah sungai Batang Air Jambu. Untuk bagian timur pada lembah-lembah yang dapat mencapai radius 5 km, sedangkan ke bagian selatan dan barat daya sepanjang lembah sungai yang dapat mencapai radius 7 km dari pusat erupsi, pada sungai Batang Air Sabu, Batang Gadis, lembah Kandang ditabik Sungai Talang dan lembah di Batu Panjang. Pada bagian selatan dan barat daya terdapat beberapa perkampungan termasuk ujung daerah ini, antara lain Wansiro, W.N.Sabu, W.N. Balai, Kandang Ditabik, Pauh, Nonggau, Anak Kayu Parak Anau, Kayu Rampak, Mandatar, Ganting Gadang.

b. Kawasan rawan bencana terhadap material lontaran dan jatuhan seperti lontaran batu (pijar), hujan abu lebat. Daerah ini meliputi radius 5 km dari pusat erupsi, yang umumnya terdiri atas hutan alam dan hutan lindung. Luas daerah Kawasan Rawan Bencana II dengan luas 120,6 km2 .
Pada Kawasan Rawan Bencana II masyarakat diharuskan mengungsi jika terjadi peningkatan kegiatan gunung api atas rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sampai daerah ini dinyatakan aman kembali. Pernyataan bahwa harus mengungsi, tetap tinggal di tempat, dan keadaan sudah aman kembali, diputuskan oleh pimpinan Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

c. Kawasan Rawan Bencana III
Kawasan Rawan Bencana III adalah kawasan yang sering terlanda awan panas, aliran lava, lontaran bom vulkanik. Pada Kawasan Rawan Bencana III tidak diperkenankan untuk hunian tetap dan penggunaan bersifat komersial. Pernyataan daerah tidak layak huni diputuskan oleh Pimpinan Pemerintah Daerah atas rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Kawasan ini meliputi daerah puncak dan sekitarnya dengan radius 3 km dari pusat erupsi, termasuk kaldera Bancah, dengan morfologi yang terjal berbatu dan tidak ada hunian, daerah ini mempunyai luas 33,3 km2.

PETA KAWASAN BENCANA LETUSAN GUNUNG MARAPI SUMATERA BARAT



Berdasarkan letak geografis Gunung Marapi, maka ada dua kabupaten yang penduduknya berisiko terkena dampak bencana letusan gunung berapi yaitu Kab. Agam dan Kab. Tanah Datar.

Penduduk terancam dalam wilayah kerja puskesmas Kab. Tanah Datar :
Kecamatan X Koto I (Penduduk 13.808 jiwa, Lansia 2.462 jiwa, Bumil 142 jiwa, Balita 1.077 jiwa, Ibu Menyusui 307 jiwa).
Kecamatan X Koto II (Penduduk 37.464 jiwa, Lansia 1.724 jiwa, Bumil 472 jiwa, Balita 3.420 jiwa).

Penduduk terancam dalam wilayah kerja puskesmas Kab. Agam :
Kecamatan Sungai Puar (Penduduk 21.145 jiwa, Lansia 4.004 jiwa, Balita 1.853 jiwa, Bumil 218 jiwa, Ibu menyusui 746 jiwa).
Kecamatan Lasi (Penduduk 21.966 jiwa (4.407 jiwa berisiko), Bumil 511 jiwa (49 jiwa berisiko), Balita 4.978 jiwa (800 jiwa berisiko), Ibu menyusui 930 jiwa, Lansia 1.570 jiwa (942 jiwa berisiko)).
Semoga Bermanfaat....

(DR. dr. Irene, MKM)

HIV AIDS : Jauhi Penyakitnya, Bukan Orangnya


Sabtu, 26 November 2011

AIDS Cases in West Sumatra

http://www.antara-sumbar.com/eng/?mod=berita&d=4&id=9215

Kusta dan Cacat .... Aku Masih Seperti Yang Dulu

Lintas Berita:

Berita 1990 : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1990/01/20/KSH/mbm.19900120.KSH17809.id.html

Berita 2010 : http://www.youtube.com/watch?v=RsMQoQo82zc

Kusta merupakan masalah kesehatan masyarakat karena cacatnya. Cacat kusta terjadi akibat gangguan fungsi saraf pada mata, tangan atau kaki. Sayangnya, orang-orang yang cacat akibat kusta “dicap” seumur hidup sebagai “penderita kusta” walaupun sudah sembuh dari penyakit. Sementara sebenarnya hampir semua cacat dapat dicegah!
Untuk menilai kualitas penanganan pencegahan cacat yang dilakukan oleh petugas, maka semua pasien kusta dinilai tingkat cacatnya sesuai dengan petunjuk WHO. Pemeriksaan dilakukan pada mata, tangan dan kaki.

Mata diperiksa apakah kelopak mata sulit menutup,
Tangan diperiksa apakah ada lunglai, mati rasa pada telapak, luka atau ulkus akibat mati rasa, pemendekan jari atau kelemahan otot,
Kaki diperiksa apakah ada lunglai (semper), mati rasa pada telapak kaki, luka , atau pemendekan jari.
Kalau ada cacat akibat kerusakan saraf dan cacat itu kelihatan (borok, luka, jari kiting, lunglai, pemendekan, mata tidak dapat menutup erat, luka pada cornea), maka diberi tingkat cacat 2. Kualitas penemuan penderita juga dapat dinilai dengan melihat proporsi tingkat cacat 2 di antara penderita baru.

Petugas harus memperhatikan penderita yang cacat tetap dan menentukan tindakan perawatan diri apa yang perlu dilakukan penderita itu. Petugas jangan hanya memberikan ceramah kepada penderita, tetapi peragakan tindakan-tindakan itu dan bantulah penderita supaya dia dapat melakukannya sendiri.

Penderita harus mengerti bahwa pengobatan MDT sudah (atau akan) membunuh bakteri kusta. Tetapi cacat pada mata, tangan atau kakinya yang terlanjur terjadi akan tetap ada seumur hidupnya, sehingga dia harus bisa melakukan perawatan diri dengan rajin agar cacatnya tidak bertambah berat.

Prinsip pencegahan bertambahnya cacat pada dasarnya adalah 3 M :
  1. Melindungi mata, tangan dan kaki dari trauma fisik
  2. Memeriksa mata, tangan dan kaki secara teratur
  3. Melakukan perawatan diri
Semoga bermanfaat.......

(DR. dr.Irene, MKM)






Insiden dan Kecacatan Kusta

Sabtu, 26 November 2011

Saya menjadi pemateri pada "Simposium dan Workshop: Diagnosis dan Pencegahan Cacat Kusta" yang diadakan oleh Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin – Perdoski, dengan judul “Insiden dan Kecacatan Kusta di Provinsi Sumatera Barat”.

Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang terutama menyerang saraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat.

Penyakit kusta tersebar diseluruh dunia dengan endemisitas yang berbeda-beda. Walaupun ada penurunan yang cukup drastis dari jumlah kasus terdaftar, namun sesungguhnya jumlah penemuan kasus baru (New Case Detection) tidak berkurang sama sekali. Oleh karena itu, selain angka prevalensi, angka penemuan kasus baru (NCDR) juga merupakan indikator yang harus diperhatikan. Karena walaupun suatu negara telah mencapai eliminasi, tidak berarti bahwa kusta tidak lagi menjadi masalah. Nampaknya kasus kusta akan terus ada setidaknya hingga beberapa tahun ke depan, hingga kesinambungan program kusta harus tetap dijamin.

Sumatera Barat telah mencapai eliminasi kusta pada tahun 1998, namun kasus kusta dari tahun ke tahun tetap bermunculan. Sumatera Barat termasuk Daerah Low Endemik Kusta. Angka Kasus Cacat Tingkat 2 dan Kasus Anak menunjukkan bahwa kinerja dalam penemuan kasus masih harus perlu ditingkatkan.

Pandangan keliru tentang kusta harus diubah:
  1. Penderita dengan lesi kulit : harus ke Sarana Pelayanan Kesehatan untuk didiagnosa dan terapi.
  2. Petugas kesehatan: Tidak Kesampingkan Kusta pada kelainan kulit.
  3. Pemuka masyarakat: Berdiri di "depan" dalam perangi stigma dan diskriminasi.
  4. Anggota masyarakat: Menerima "kusta dan penderitanya".
  5. Pengambil keputusan: "Komitmen Politis"
"Bersama kita bisa cegah kecacatan kusta".....Cari Peluang Untuk ACTION.
Bravo Perdoski Cabang Padang, yang telah mengangkat tema "Leprosy" pada sebuah simposium.

(DR. dr. Irene, MKM)

Materi Lengkap dapat di di download di:

Nagari Peduli TB di Sumatera Barat

Poster Nagari Peduli TB _ Irene